Rabu, 30 Januari 2019

TRANSIT 19 JAM DI MALAYSIA, NGAPAIN AJA?

Dengar kata transit, saya yakin kalian pasti paham kalau tujuan traveling saya bukan ke Malaysia. Yup! Aslinya saya mau ke Korea Selatan. Tapi berhubung harga tiket pesawat langsung dari Jakarta ke Korea mahalnya nauzubillah pake banget, jadi saya pilih transit aja. Oh beda ya? Iya, beda banget.

Misalnya, harga tiket dari Jakarta langsung ke Korea tanpa transit (baik yang keluar bandara maupun sekadar pindah pesawat) itu sekitar 5 – 10 jutaan tergantung jenis pesawatnya. Sedangkan harga tiket yang transit sekitar 3 – 5 jutaan. Itu one way ya alias cuma harga tiket keberangkatan. 

Balik ke topik, karena saya dapat jadwal terbang ke Korea hari Rabu sekitar jam 07.15 pagi waktu Malaysia, otomatis saya kudu stay dong dari Selasa malam. Tapi ngerasa sayang aja gitu, jauh-jauh ke negeri tetangga kalau berangkatnya pas malam. Jadi, saya putuskan untuk ambil jam keberangkatan hari Selasa pagi. So, semakin panjanglah jam transitnya hahaha.

Sinar mentari di Bandara KLIA 2

Dari Berdua, Jadi Bertiga
Jadi, di perjalanan kali ini sempat ada drama keluarga. Rencana awal, saya dan sahabat karib bernama Tami mau ikut open trip Korea. Biaya open trip ini bisa dicicil selama kurang lebih setahun, jadi sebulan sejuta. Sudah mulai berjalan beberapa bulan, tiba-tiba Tami dilarang pergi ke Korea sama ortunya. Dengan berbagai upaya dan rayuan biar diizinin, kami kalah telak. Kalau kata ibunya nggak boleh, ya nggak boleh. Skak! Maka cancel-lah si Tami berangkat ke Korea dengan biaya DP dan cicilan otomatis hangus. 

Tapi berhubung tiket ke Malaysia udah kebeli—dan rugi banyak kalau hangus juga, jadi Tami tetap berangkat ke Malaysia. Tami juga ngajak Retno, teman kantornya buat ikutan ke Malaysia nemenin dia. Maksud hati, biar pas saya berangkat ke Korea, mereka bisa eksplore Malaysia lebih lama gitu. Balas dendam ceritanya. -_-“ 

Maka, inilah tim resmi One Day Trip in Malaysia! 
Cari Tempat Penitipan Koper? Hhmm ...
Saya dan Tami berangkat lebih dulu dengan pesawat yang sama, tiba di KLIA 2 (Kuala Lumpur International Airport 2) pukul 11.45 waktu setempat. Beli cemilan onigiri dan air mineral di minimarket bandara. Terus turun ke lantai satu, nunggu bus gratis di free shuttle menuju KLIA 1 untuk jemput Retno. Kami sangka bakal mudah, tinggal kabarin posisi di mana, nanti jemput di mana, selesai. Nyatanya, sampai bolak-balik naik turun lift, nanya sana sini nggak ketemu juga. Udah mulai bete-bete-an, akhirnya saya coba paham-pahamin bahasa di papan petunjuk arah. Walau masih satu rumpun, asli deh ternyata bahasa Malaysia ngebingungin euy.

Satu jam kemudian, akhirnya ketemu. Tapi masalah belum selesai di situ. Kami balik ke KLIA 2 buat cari tempat penitipan koper. Nggak lucu dong, mau jelajah tempat wisata geret-geret koper. Berbekal pencarian di internet, dengan bangga saya yakinkan mereka berdua, “Ada kok. Tempat penitipan koper ada di KLIA 2, itu deket pintu check out dan bla bla bla ....” 

See? Lagi-lagi waktu kami terbuang sia-sia. Lucunya, seorang petugas yang saya tanya malah jawab, “Apa itu koper? Awak tak paham.” Lalu, dengan bahasa tarzan saya kasih unjuk koper saya.

“Oh, sorry, maksudnya ini. Tempat penitipan barang ini.” 

“Baggage?” 

“Hah?” Saya pun bertambah bingung, bagasi yang dia maksud sama nggak nih sama yang saya pikir? Ntar salah-salah malah dimasukin ke bagasi pesawat lagi. Hadeuhh *tepok jidat*

Belum juga keluar bandara, kaki udah pegel duluan. Tami mulai sakit kepala karena lagi nggak enak badan. Waktu udah mau jam 3 sore dan kami kelaparan! Fix nyerah! Lambaikan bendera putih! 

Kami langsung cari makan, biar cepat kami pilih KF* aja. Tapi jujur masih enakan KF* di Indonesia, entahlah rasa ayam sama sup di sana agak aneh menurut kami. Tapi kata Lave, KF* Malaysia lebih enak daripada di Indonesia, ya beda lidah beda pendapat sih. Btw, siapa itu Lave? Nanti saya ceritain. 

Intinya, sekitar setengah 3 sore kami baru keluar dari bandara. Setelah tahu harga ongkos kereta, taksi, dan segala macam transportasi menuju KL Sentral, kami putuskan naik bus aja. Harganya lebih terjangkau. 

Tempat pemberhentian akhir Bus KLIA 2 - KL Sentral

Butuh sekitar satu jam untuk sampai di KL Sentral, dari sana kami ke stasiun lanjut naik KTM commuter jurusan Batu Caves. 

Lift turun menuju stasiun

Tiba di Batu Caves sudah jam 5-an, udah agak sepi di sana. Langitnya mendung, bahkan sempat gerimis manja. Beruntungnya, gerbang tangga menuju ke kuil masih dibuka. Tadinya kami sempat pesimis, karena menurut mbah google, Batu Caves tutup jam 5 sore. Sedangkan kami nge-pas banget sampai di sana jam 5-an. Alhamdulillah infonya salah hahaha ... 

Batu Caves, Tempat Ibadah Berbalut Wisata 
Mulai dari depan pintu gerbang sampai ke pelataran bawah tangga, kami mendengar suara-suara orang sedang beribadah gitu. Wajar sih, karena Batu Caves itu ibarat Candi Borobudurnya Malaysia. Hanya beda agama aja, kalau di Borobudur penganut Budha, sedangkan di Batu Caves penganut Hindu.

Akhirnya geret-geret koper 😅

Jadi kebayangkan seperti apa menariknya Batu Caves?

Di sana ada dua spot utama, pertama pelataran di depan patung Dewa Murugan yang berukuran besar. Warnanya emas, sangat mencolok. Di sekitarnya terdapat bangunan-bangunan yang bentuknya unik, ada kubahnya gitu terus warna-warni. Lalu, ketika saya coba zoom kamera lebih dekat ke arah kubah-kubah itu, ternyata ada patung-patung kecil. Saya kurang tahu itu patung apa atau dewa siapa, tapi sosoknya ada yang berupa perempuan dan laki-laki.

Sisi kanan pelataran
(©2019 by Novita Utami)
Sisi tengah pelataran

Serunya, di pelataran itu banyak burung-burung merpati bergerombol. Jadi, spot tersendiri deh bagi pengunjung yang mau foto. Btw, pas di dekat pintu gerbang masuk tadi, banyak monyet-monyet berkeliaran. Jadi, be safety ya walaupun monyetnya kalem-kalem nggak sampai "ngerebut barang".


sisi kiri pelataran

Spot utama kedua, adalah goa tempat ibadah. Walaupun tempat ibadah, pengunjung diperbolehkan kok untuk masuk dan melihat ke dalamnya. Tinggal adab kitanya aja yang sopan dan menghargai mereka terutama kalau lagi ada yang ibadah.



Warna-warni tangga menuju goa

Letak goanya di atas bukit. Jadi, kalau mau ke sana, kita kudu menaiki sekitar 290 anak tangga dulu. Hehehe ... Capek? Nggak sih sebenarnya. Soalnya tangganya warna-warni, bangus banget. Malah bikin salah fokus, yang niatnya ke goa malah stagnan di tangga buat foto-foto 😅.

© 2018 by Novita Utami

Sampai nggak sadar, tahu-tahu udah jam 7 aja. Padahal langit di sana masih terang, lho. Beda sama di Jakarta, jam 7 udah gelap.



Back to pelataran

Langitnya masih terang

Nuansa India di Batu Caves cukup kental, Guys. Rata-rata penjual di sana orang India asli. Beberapa kali mata saya menangkap mereka berpakaian baju sehari-sehari, lalu dilapisi kain sari. Malah ada yang murni pakai sari aja. For information, kain sari adalah pakaian khas India. Menambah keyakinan bahwa mereka orang India, ada Bindi atau Sindoor alias tanda bulatan merah gitu di kening mereka. Di luar gerbang, mereka berjualan pernak-pernik kayak kalung, bros, dll. Sedangkan di dalam Batu Caves mereka berjualan “benda-benda” untuk ibadah (menurut saya sih), misalnya rangkaian bunga berbentuk kalung. Biasanya kalau di film-film India, gunanya untuk mengalungkan orang yang dihormati, baik yang masih hidup atau foto orang yang sudah meninggal.

bersambung ....
.
.
.
.
.
Mau lihat keseruan versi vlognya? Tonton aja di Youtube. Jangan lupa like dan subscribe ya 💚




Rabu, 31 Oktober 2018

Ini Dia 3 Restoran yang Makanannya Paling Lezat di Pulau Bali, Jangan Sampai Kamu Lewatkan


Apakah ada diantara kalian yang tidak kenal pada sebuah Pulau yang bernama Bali?

Sebagai warga Negara Indonesia, tentu saja kita sudah kenal betul siapa Bali ini. Memang tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa destinasi wisata alam di Pulau Bali begitu memanjakan mata bagi siapa saja yang memandangnya. Itulah yang menjadi alasan utama, mengapa pulau yang satu ini selalu menjadi pilihan terfavorit bagi para turis lokal dan turis asing. Selain terkenal dengan destinasi wisata alamnya, di Pulau Bali juga terdapat banyak sekali restoran-restoran yang menyajikan makanan-makanan lezat lho.

Dikutip dari berita terkini Bali, inilah 3 restoran yang makanannya paling lezat di Pulau Bali:

1. Livingstone Bakery
Apakah kamu termasuk sebagai penikmat berat bakery & pastry? Jika iya, maka Livingstone Bakery inilah yang sedang kamu cari-cari selama berlibur di Bali. Selain menyajikan hidangan aneka roti yang lezat, di resto ini juga kamu bisa memilih menu makanan lainnya yang tidak kalah nikmatnya. Nah, bagi kamu yang ingin datang ke Livingstone Bakery, silahkan saja datang ke alamat Jl. Petitenget No. 88, Kerobokan, Bali.

2. Sea Circus
Selain Livingstone Bakery, Sea Circus juga merupakan salah satu restoran terbaik di pulau Bali yang recommended banget. Adapun mengenai berbagai menu kuliner yang dapat kamu pilih disini seperti cocktail, bakery, cake, kopi, dan masih banyak lagi. Selain itu, di café ini juga kamu akan disuguhi oleh aktrasi sirkus yang sangat menghibur. Lalu, dimanakah lokasinya? Mengenai lokasinya, Sea Circus ini bisa kamu jumpai di alamat Jl. Kayu Aya No. 22A, Petitenget, Seminyak, Kab. Badung, Bali.

3. La Laguna
Restoran terbaik berikutnya di Pulau Bali yang wajib kamu datangi, yakni bernama La Laguna yang berlokasi di alamat Jl. Pantai Kayu Putih, Berawa, Mengwi, Bali.

Nah, itulah 3 restoran terbaik di Pulau Bali yang tentunya jangan sampai kamu lewatkan. Bagaimana, apakah kamu tertarik untuk mengunjungi salah satu restoran tersebut?

Kamis, 23 Agustus 2018

Seharian Jadi Anak Pantai Part #1 (Traveling ke Malang)


"Diberitahukan kepada penumpang, Kereta Matarmaja sebentar lagi akan sampai di stasiun tujuan akhir, Malang Kota Baru ...."

Hari itu, tepatnya tanggal 28 April lalu, masih teringat jelas di benak saya. Rasa capek punggung dan panasnya bokong karena semalaman tidur di kursi kereta. Walaupun sebenarnya, itu bukan kali pertama saya traveling dengan kereta api sih. Tahun 2015 lalu, saya pernah melakukan perjalanan dengan sahabat SMA ke Yogyakarta. Perjalanan yang sampai sekarang belum pernah saya posting di blog ini. Hahaha maafkan ....

Saat itu, jam di ponsel menunjukan sekitar pukul 07.40 WIB. Ramai-ramai penumpang di kereta (termasuk saya) bersorak karena senang, sebentar lagi kereta akan sampai. Btw, ini beneran lho, penumpang di gerbong pada bersorak heboh. Bukan karena saya yang lebay nulisnya. Mungkin mengingat betapa lelahnya kami tidur sembari duduk di kereta kelas ekonomi, dengan lama perjalanan 16 jam. Ditambah lagi, dua AC menyala dalam satu gerbong dan kondisi semalam sedang hujan. Brrr.... jaket, masker, dan kaos kaki pun rasanya kurang ampuh. Untungnya saya bawa sarung untuk dijadikan selimut. :D Saya sudah nggak peduli lagi dengan tanggapan orang, yang penting saya hangat. Kalau penumpang lain, ada yang sepertinya sok kuat, pakai baju pendek ujung-ujungnya mual masuk angin. *haduh

Balik ke cerita semula, kehebohan tidak berhenti setelah adanya pemberitahuan tersebut. Penumpang mulai melipir ke jendela bagian kiri dan mem-video-kan pemandangan dengan takjub. Saat itu, kereta mulai berjalan di atas jembatan dan melewati Kampung Warna-Warni Jodipan. Sangat keren! Sayangnya, saya telat mengabadikan gambar dari atas jembatan.

"Nanti kita ke sini kan, Kak?" tanya Dela, adik sepupu saya sekaligus partner perjalanan saya kali ini.

"Yuppp! Jodipan masuk ke dalam list destinasi kita kok."

Sembari membayangkan betapa menyenangkannya liburan kali ini, kami memutuskan untuk bersiap-siap; jangan sampai ada kabel/colokan yang ketinggalan di kereta; jangan sampai ada sampah yang berserakan di kolong bangku; dan tentu memastikan tiket, dompet, hape, dan sebagainya aman di dalam tas kami masing-masing.

***
Stasiun Malang Kota Baru
Usai kereta berhenti di stasiun tujuan akhir, kami berempat (saya, Dela, Nidar, dan Irni) mulai mencari toilet di stasiun. Seperti awamnya toilet umum, kondisinya ramai, antrean mengular, tapi alhamdulillah bersih. Setelah itu kami ketemuan dengan sopir dari travel. Hm, sebelumnya saya jelaskan kalau kami nggak ikut open trip atau full sewa travel. Kami semi-backpacker dengan artian hanya menyewa mobil tergantung kebutuhan saja. Misalnya, itinerary hari pertama kami ke kawasan pantai selatan dan ternyata nggak ada kendaraan umum yang mengarah ke sana. Otomatis kami butuh sewa mobil. Sedangkan untuk urusan booking pantai dan segala macam, kami melakukannya sendiri.

Setelah bertemu sapa dengan sopir, kami langsung diantar ke tempat tujuan. Melewati kota Malang yang ternyata suasananya lebih mirip di Lampung daripada Jakarta, membuat saya dan Dela nostalgia pulang kampung. Banyak ruko-ruko berjejer, bangunannya pun tidak se-modern Jakarta yang tinggi menjulang, namun tidak setua dan se-tradisional kota Yogyakarta. Benar-benar khas Lampung, mungkin bedanya, bangunan di Lampung banyak terpasang ornamen Siger, sedangkan Malang tidak.

Dela with Nidar (pose kalian sok imut deh)

Dela, Nidar, dan saya

Lalu, setelah lebih dari dua jam, mobil mulai memasuki kawasan sepi pengendara. Tebing-tebing mengelilingi jalan raya, kanan dan kiri sesekali menunjukkan pemandangan yang indah, yaitu bukit-bukit yang menjulang, bukit ilalang yang bikin kami pengen turun ke sana terus selfie-selfie, juga deburan ombak dari Pantai Jelangkung di pinggir jalan yang fantastis banget, tapi sayangnya kami nggak bikin list destinasi ke sana.

"Nanti kalau pulangnya sempat, kita mampir aja. Sekalian lihat sunset," kata Mas Indra, sopir yang mengantar kami.

"Boleh nih?"

"Ya, nggak apa-apa. Yang penting dalam sehari, tujuannya tiga pantai dan masih satu arah."

Kami pun bersorak senang. Karena memang destinasi yang kami kunjungi hari ini hanya dua, Pantai Tiga Warna dan Pantai Gatra. Itu pun, masih satu kawasan, yaitu Sendang Biru.

Sekitar pukul 11.00 WIB mobil kami sampai di kawasan pantai, itu berarti kami masih punya waktu 30 menit untuk mengisi perut. Untuk yang belum tahu, Pantai Tiga Warna adalah salah satu pantai yang berada di kawasan konservasi, artinya kita tidak bisa sembarangan masuk ke lokasi ini tanpa booking terlebih dahulu. Minimal sebulan sebelumnya, kita harus booking dan mengecek kuota pengunjung. Sebab, dalam satu hari, Pantai Tiga Warna hanya menerima sekitar 200 pengunjung. Jam buka pun hanya sampai pukul 14.00 WIB.

Sebelumnya, saya sudah booking untuk tanggal 28 April, jam 11.30 WIB, alhamdulillah kuotanya masih ada untuk empat orang. Di sini, Mas Indra nggak ikut masuk. Hanya menunggu di parkiran.

Kami pun dijemput oleh Mbak Marta, salah satu petugas CMC Pantai Tiga Warna yang selama ini chatting-an whatsapp dengan saya (terkait booking dan pembayaran). Kami dibawa ke pos ceklis, lalu dijelaskan mengenai peraturan-peraturan yang harus kami patuhi. Salah satunya, barang bawaan kami diperiksa apakah ada barang-barang plastik, sekali pakai/kemungkinan menjadi sampah, seperti shampo sachet, plastik kresek, bungkus sabun batangan,  pembalut, dan sebagainya. Semuanya dihitung.

Jumlah barang yang kita bawa keluar kelak, harus sama hitungannya dengan barang yang kita bawa masuk. Misalnya, pas saya masuk bawa 2 plastik kresek dan 1 shampo sachet (total 3 barang) maka tiga barang tersebut harus kita bawa keluar lagi. Nggak boleh dibuang di dalam pantai, sekalipun ada tempat sampah. Baik sengaja maupun tidak sengaja. Sebab, berlaku denda Rp 100.000 per barang yang hilang.

Ketat banget peraturannya? Yup! Itu semua terbayar kalau kalian sudah berada di dalam pantainya! Keren banget!

Oh, iya untuk masuk ke dalam pantai, ada dua pilihan jalur: Jalur Pejalan Kaki dan Jalur Perahu.

Oleh karena keterbatasan waktu, rombongan kami memutuskan untuk melalui jalur perahu. Dari pos ceklis kami diarahkan ke dermaga kecil dan naik perahu boat.

Happy banget kayaknya 
Suerr ... ini candid
Sampai di tempat tujuan, kami menyempatkan diri untuk berfoto-foto sejenak.

Full team

Irni (Akhirnya ada foto kece juga haha ..)
Tapi jangan kelamaan foto-foto di sini ya! Karena lokasi utamanya bukan di sini hehe ... Bersama seorang pemandu, kami diarahkan menuju pantai. Benar-benar luar biasa! Sesuai dengan namanya, Pantai Tiga Warna memiliki tiga warna yang menjadi ciri khas, yaitu pasir putih yang kemerahan, laut dangkal yang kehijauan, dan laut dalam yang biru. Sangat cantik kalau dilihat dari atas tebing.


Full team with pemandu (maaf ya Mas, saya lupa namanya *tutup muka)

Selfie di atas tebing
Tak mau membuang waktu, kami bergegas turun ke pantai. Di sana, sembari menunggu pemandu membawakan alat snorkeling (disewakan), saya dan Dela langsung asik sendiri merekam video. Sedangkan Irni dan Nidar ke toilet umum untuk urusan cewek (nggak perlu dibahas ya :D).

Kondisi pantainya bersih banget. Inilah yang menjadi alasan ketatnya peraturan masuk ke lokasi pantai. Sebab, pantai ini bagian dari wilayah konservasi, maka kondisi pantai harus senantiasa bersih, keindahannya juga terjaga, karang-karangnya terawat, dan yang pasti berasa di pulau pribadi karena tidak banyak orang di sana.


copyright 2018 by Nila Fauziyah

Tapi bodohnya, saya melupakan alat paling penting untuk berenang. Penutup telinga! Oh God! Untuk seorang berpenyakit THT seperti saya, berenang tanpa alat penutup telinga sama saja cari penyakit.

Baca juga: Perkenalan yang mungkin terlambat

Apalagi kalau dibawa snorkeling ke laut lepas. Bisa-bisa air asin masuk ke telinga dan ngingggg ... telinga bakalan ngilu. Parahnya kalau sampai masuk ke hidung bagian dalam (kalau kata orang, kena ke sinus) sudah deh, kacau balau liburan. Daripada saya jadi pengacau, mending ngalah. Alhasil saya hanya berenang ngambang, nggak sampai nyelam alias snorkeling beneran.

Terus bagaimana dengan ketiga partner perjalanan saya? Mereka pun sama saja! Gara-gara nggak ada yang berani berenang jauh, mereka milih berenang di pinggir pantai, dan lebih banyak berfoto-foto. Halah! Ngapain sewa alat snorkeling atuh?










Bersambung ...

Minggu, 22 Juli 2018

Ngopi Asik & Unik Nggak Bikin Kantong Tipis!

Hello, mana nih yang suka ngopi? Ngopi apa ngopi diem diem bae hahaha. Zaman sekarang siapa yang gak suka ngopi? Eits bukan ngopi yang di sachet yang dibeli diwarung lalu diseduh gitu ya hehehe. Sekarang ini di setiap daerah pasti punya coffee shop. Sebenernya apasih cofee shop itu? Coffee shop itu adalah semacam cafe yang menjual kopi. Nah biasanya kopi yang dijual  di sini itu, yaitu kopi asli yang terbuat dari biji kopi, Guys. Lalu, diproses gitu hingga menjadi minuman kopi yang bisa kita nikmatin. 

Tau gak sih manfaat kopi itu apa? Kopi bisa membuat otak kita menjadi terus bekerja loh jantung kita juga jadi cepat memompa darahnya, maka dari itu ketika kita minum kopi pasti kita yang tadinya ngantuk jadi ga ngantuk kan? Kita jadi segar kembali. Nah biasanya kalau di luar negeri itu biasanya minum kopi di pagi hari menjadi kebiasaan mereka sebelum bekerja supaya otak dan pikiran mereka menjadi segar sehingga semangat dalam bekerja.


Nah, untuk kalian yang ada di daerah Cimahi, ada nih coffee shop yang menawarkan berbagai macam minuman kopi. Apa ya nama tempatnya? Nama tempatnya yaitu Coffee n Friends. Dimana ya lokasinya? lokasinya di Jl. Encep Kartawiria no. 165 Cimahi. Coffee shop ini sudh lumayan lama berdiri sekitar beberapa tahun yang lalu.

Apa yang membuat kopi disini unik? “Tentunya biji kopi yang dipakai disini kita menanam sendiri pokonya di daerah Jawa Barat, jadi beda dengan kopi yang dijual di coffee shop yang lainnya. Lalu, dalam proses rosting juga kita memiliki mesin sendiri dan biji kopi pun di rosting oleh roaster yang sudah terlatih sehingga menghasilkan biji kopi yang sangat bagus dan memiliki cita rasa yang berbeda dengan kopi yang lainnya. Nah, ini yang menjadi pembeda dari coffee shop kami,” ujar Pak IB Ketut Bagiana selaku owner dari Coffee n Friends, Kota Cimahi, Sabtu (14/07/2018).


Lalu, varian kopi apa saja yang dijual disini? “Nah, banyak sekali varian kopi yang dijual disini diantaranya espresso, americano, long black, piccolo, cappucino, coffee latte, mochaccino, caramel latte, cappucino creme brulee, espresso con panna, caramel machiato, avogato dan kopi kocok. Lalu untuk menu tertentu bisa dihidangkan panas atau dingin (hot or cold). Disini juga terdapat manual brewing degan varian menu diantaranya vietnam drip, siphon, V-60, french pres dan cold brew.” Ujar Pak IB Ketut Bagian selaku owner dari Coffee n Friends, Kota Cimahi, Sabtu (14/07/2018) . 

“Kopi disini pun bisa disajikan dengan latte art (khusus untuk hot) yang bermacam-macam karena barista nya juga sudah handal dan berpengalaman dalam membuat kopi. Sehingga rasa dari kopi pun sangat enak untuk dinikmati dan memiliki cita rasa yang berbeda dengan kopi yang dijual di coffee shop yang lain.” Lanjut ujar Pak IB Ketut Bagiana selaku owner dari Coffee n Friends, Kota Cimahi, Sabtu (14/07/2018). 

Lalu, bagaimana harga yang ditawarkan disini? “Jadi, harga yang ditawarkan cukup terjangkau yaitu dibandrol dengan harga Rp. 10.000 smpai Rp.30.000. dimana dengan harga tersebut kalian bisa menikmati kopi kesukaan kalian. Tunggu apalagi pilihan tempat untuk kalian ngopi ada di Coffee n Friends.

Kamis, 28 September 2017

Surfing dan Snorkeling Asyik di Pantai Bias Tugel

Pantai Bias Tugel meskipun tersembunyi, tidak kalah eksotis dibanding pantai Sanur atau Kuta. Kebersihan dan ekosistemnya masih sangat terjaga. Tempatnya pun relatif sepi karena belum begitu banyak dikenal.

Menuju Lokasi Pantai Bias Tugel

Akses menuju pantai Bias Tugel memang sedikit sulit. Meskipun hanya ditempuh selama satu setengah jam dari bandara Ngurah Rai, namun rutenya berliku.

Untuk bisa sampai ke pantai Bias Tugel, kamu harus ke Pelabuhan Padang Bai lebih dulu. Kemudian berjalan kaki sejauh 500 meter, siapkan sepatu atau sandal bersol tebal karena jalannya terjal dan berbatu. Kesulitan perjalananmu nantinya akan terbayar oleh indahnya pantai Bias Tugel yang mungil.

Jika kamu beserta rombongan yang cukup banyak, lebih baik sewa mobil saja sejak dari bandara. Di omocars.com kamu bisa memilih mobil yang sesuai dengan selera dan budget-mu.

Keistimewaan Pantai Bias Tugel

Areanya tidak begitu luas dan bisa dijelajahi dalam waktu sebentar. Ada batu karang yang tinggi di sisi kanan dan kiri pantai, seolah menjadi batas alami Bias Tugel dengan pantai sekitarnya.

Kamu yang hobi surfing pasti menyukai tempat ini. Ombaknya yang tinggi akan menguji adrenalinmu.

Kamu juga bisa snorkeling mengintip keindahan bawah laut. Terumbu karang alami dan ikan-ikan terlihat jelas karena kejernihan air lautnya.

Jangan lupa bawa kamera ya, Bias Tugel asyik sekali untuk difoto, apalagi waterblow-nya yang ada di karang sebelah kanan pantai. Tumbukan antara ombak dan karang menyebabkan air tersembur dari dalam batu karang seperti air mancur.

Jaga Kelestarian Pantai

Keistimewaan pantai Bias Tugel lainnya adalah tidak ada tiket masuk alias gratis. Meski begitu “bayarlah” keindahan yang kamu dapatkan dengan cara lain.

Jagalah kebersihan pantai, jangan tinggalkan sampah sedikit pun. Bahkan sepotong kecil plastik bisa melukai ekosistem, memerlukan waktu lama sekali untuk terurai di dasar laut.

Alam, flora, dan fauna yang ada nikmati saja, jangan diganggu. Tak perlu mencoret-coret pohon atau karang. Atau menangkap hewan laut kecil untuk dibawa pulang.

Siapkan Bekalmu

Bagusnya sih kamu membawa bekal sendiri, karena pantai yang sepi ini masih minim fasilitas. Tapi usahakan juga berbagi rejeki dengan beberapa warung yang ada di pantai.

Warung-warung itu menjual makanan dan minuman ringan. Bangunan yang ditempatinya semi permanen beratap daun kelapa kering. Konon saat angin laut sangat kencang, atap itu terbang terbawa angin.

Untuk barang-barang seperti perlengkapan renang dan snorkeling, juga mungkin alas berjemur, kamu memang harus membawanya sendiri. Have fun!

Rabu, 20 September 2017

Pentingkah Asuransi Jiwa Bagi Traveler?

Dewasa ini, banyak orang dengan mudahnya mengaku sebagai traveler. Baru main ke luar kota sedikit, sudah ngaku-ngaku sebagai traveler. Agak berbeda dengan traveler sejati yang benar-benar senang bepergian ke daerah-daerah terpencil, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Traveler sejati bukan hanya sekedar bepergian untuk tamasya, ada motivasi tersendiri, seperti ingin merasakan suasana pedesaan, melihat secara langsung kehidupan di sana, memotret atau menuliskan kisah-kisah perjalanan mereka.


Sumber: themystikmonk.com

Ada rintangan tersendiri di setiap perjalanan mereka. Malah terkadang yang dipikirkan traveler sejati bukanlah, “tempat mana yang paling eksotis untuk dijadikan background selfie” melainkan “tempat mana yang bisa membawa kesan mendalam”.

Tempat yang bisa mereka kenang sampai tua kelak, dan tentunya pemikiran itu tidak didapat dalam sehari-dua hari.

Apalagi, jika akhirnya pilihan mereka jatuh pada tempat-tempat yang ekstrem, misalnya benua antartika. Mereka tentu tahu resiko apa saja akan dihadapi, memprediksi hal-hal buruk yang bisa saja terjadi. Di balik kepuasan yang akan mereka dapatkan, pasti ada kejadian yang tidak terduga. Mereka harus mempersiapkan itu, bahkan yang berhubungan dengan nyawa sekali pun.

Traveler amatiran biasanya tidak berpikir sejauh itu. Mereka cenderung merasa “semakin menantang, semakin bagus pula foto yang dihasilkan”. Tanpa mengerti bahwa mereka bisa saja mengalami cacat karena kecelakaan, meninggal karena terjatuh dari tempat tinggi. Itu semua adalah resiko yang harus kita perhitungkan sebagai seseorang yang mengaku “traveler”.


Sumber: consumerismcommentary.com
Terlebih lagi, kalau kita adalah tulang punggung keluarga. Yang artinya, apabila kita kecelakaan hingga kehilangan nyawa, kita meninggalkan beban kepada keluarga yang ditinggalkan. Untuk itu, mulailah berpikir mencari alternatif dan solusi. Setidak-tidaknya buat diri kita merasa tenang selama bepergian. Yang pada intinya, alternatif tersebut berfungsi untuk mengantisipasi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi tentu saja, kita selalu berharap yang baik-baik selama perjalanan kan?

Ibarat sedia payung sebelum hujan. Tidak ada salahnya melakukan pencegahan sedini mungkin.

Pencegahan yang dimaksud di sini adalah asuransi jiwa. Asuransi jiwa memang tidak bisa mengembalikan nyawa kita ketika kecelakaan dan meninggal dunia. Karena asuransi jiwa bukanlah Tuhan. Tapi dengan membeli asuransi jiwa, kita bisa mencegah adanya beban berat yang harus ditanggung oleh keluarga.

Asuransi jiwa memastikan bahwa keluarga yang ditinggalkan akan hidup berkecukupan, sebagaimana kehidupan mereka ketika kita masih hidup. Bisa dibilang, asuransi jiwa semacam "warisan" untuk keluarga ketika kita meninggal. Yang manfaatnya bukan hanya dirasakan oleh keluarga, melainkan untuk diri kita ketika sudah meninggal, misalnya biaya mengurus jenazah, sampai biaya makam (yang bukan rahasia lagi, kalau dari tahun ke tahun harganya semakin mahal).

Bahkan apabila kita meninggal dalam keadaan memiliki utang, asuransi jiwa bisa membantu membayarkan utang tersebut.
***
Memang agak sama dengan asuransi perjalanan. Ketika kita menaiki suatu kendaraan umum seperti pesawat, dalam tiket pesawat itu tentu sudah disertai asuransi keselamatan atas diri kita, kehilangan barang bagasi, dan semacamnya. Namun, perbedaan mendasar antara asuransi jiwa dan asuransi perjalanan terletak pada "kapan asuransi tersebut bisa digunakan?", dan asuransi jiwa tidak terbatas pada waktu kita melakukan perjalanan. Di saat kita berdiam diri di rumah pun, lalu tiba-tiba bencana yang tidak terduga yang membuat kita meninggal, maka keluarga kita akan mendapat santunan asuransi jiwa kita.


Sumber: pybahrain.com

Jadi, bukankah sudah waktunya seorang traveler mulai berpikir, "Apakah saya butuh asuransi jiwa? Pentingkah saya membelinya?"

Because today, life insurance is an item we must have.

Rabu, 26 Juli 2017

Pengalaman Mendapat Driver Tunarungu

Sebenarnya kejadian ini sudah agak lama terjadi, tapi bagi saya, ceritanya tidak akan pernah basi. Apalagi, bagi kalian yang suka jalan dengan kendaraan umum. Walaupun cerita kali ini tidak bisa dibilang travelling juga sih, karena ...

Berawal dari beberapa bulan lalu, ketika di kantor sedang masa-masa pra-audit eksternal. Saya dan teman-teman kantor terpaksa pulang lebih malam daripada biasanya. Kurang lebih jam 10 malam, salah satu teman yang bernama Bu Vi-El, meminta tolong untuk dipesankan ojek online dari ponsel saya karena dia tidak punya aplikasi Uber. Dia mau pulang ke rumahnya walaupun sudah hampir tengah malam, sedangkan saya memutuskan untuk menginap di kost teman yang berada dekat kantor, karena jarak kantor dan rumah saya lumayan jauh.

Hal yang paling mengejutkan, ketika kami akhirnya mendapat driver untuk Bu Vi-El, di layar ponsel muncul pop up. Isinya memberitahukan kalau Bu Vi-El mendapat driver yang tunarungu. Bu Vi-El tidak perlu takut untuk melanjutkan perjalanan karena pihak Uber akan memandu sang driver melalui aplikasi. Tapi dengan cepat Bu Vi-El menyuruh saya untuk meng-cancel driver tersebut, dengan alasan keamanan yang kurang terjamin. Saya bisa apa? Driver ini untuk Bu Vi-El kan?



sumber gambar: internet
Tapi saya tertohok, sangat sangat tertohok. Menuliskan kembali cerita ini pun, perasaan tertohok itu muncul lagi. Rasa sakit yang mungkin tidak kalian rasakan, termasuk Bu Vi-El. Saya menangis saat itu juga setelah jari saya memencet tombol cancel. Saya seperti menolak diri saya sendiri. Walapun saya tidak tunarungu, tapi saya punya penyakit yang sejenis. THT yang bikin pendengaran saya berkurang, dan bukankah itu sama saja dengan tunarungu? Hanya intensitasnya yang berbeda.

Baca juga: Perkenalan yang (Mungkin) Terlambat

Menekan tombol cancel, membuat saya seperti orang jahat yang tidak memberi driver itu kesempatan. Sedangkan saya kerap mengeluh agar diberi kesempatan untuk menjadi orang normal, dunia yang normal, walaupun itu mustahil, karena telinga saya saja sudah tidak normal. Saya seperti menolak, menjahati, dan mengkhianati diri sendiri. Bersikap tidak adil kepada driver itu, sedangkan Saya? Saya meminta kesempatan dari orang lain, tapi saya malah menolak memberi kesempatan kepada si driver.
******
Selang beberapa minggu, Saya memesan aplikasi Uber untuk pulang ke rumah. Semua terlihat normal walaupun ketika saya mencoba memberi arahan via telepon, telepon saya tidak diangkat dan si driver mengirim sms, “Mbak, diarahkan lewat sms saja ya.”

Tidak ada rasa curiga saat itu, sampai si driver datang, lalu ada sebuah kertas yang dikalungkan di lehernya.

“Ojek Uber. Imam. 08xxxxxxxxxx”

Saya masih tidak berpikir kalau dia seorang tunarungu. Hanya mengira, bahwa bapak itu gagu atau minimal gagap bicara. Tapi no problem. Sekali lagi, saya berusaha memberi kesempatan kepada orang-orang yang memiliki kekurangan, terutama secara fisik. Karena biasanya, orang lain suka memandang sebelah mata dan itu sangat menyakitkan hati. Bahkan saat itu saya membawa barang yang cukup besar dan dia agak kerepotan. Tapi, dia sama sekali tidak mengeluh, bahkan berusaha bilang dengan gerakan tangan, “Bisa kok ini, tapi pelan-pelan saja ya,” intinya biar barang yang saya bawa tidak jatuh. Dia juga minta tolong diarahin jalannya karena takut maps di aplikasi tidak sesuai dengan jalan yang biasa saya lewati.

Selama di perjalanan, saya terus berpikir, mungkinkah Pak Imam ini tunarungu? Tapi kenapa tidak muncul pop up pemberitahuan dari ojek Uber? Tapi, apa orang yang gagap bicara sudah pasti tidak bisa mendengar? Di sepanjang jalan itu pula, saya beberapa kali ngasih arah jalan dengan gerakan tangan entah itu belok ke kanan, kiri, atau lurus, hingga akhirnya sampai di rumah. Saya masih tidak berani untuk bertanya, “Apakah bapak tunarungu?”

Well, beberapa bulan kemudian, saya mendapat whatsapp dari nomor tidak dikenal. Isinya bukan teror sih, tapi lebih ke informasi kalau ada pembagian laptop gratis dari kementerian apa gitu, saya lupa. Karena ngeri hoax, saya pun bertanya dan orang itu jawab, “Saya Imam tunarungu yang kerja uber pernah antar mbak.”


Screenshoot percakapan
Saya menangis lagi.

Jujur, sakit hati yang pernah saya rasakan ketika meng-cancel driver Bu Vi-El seolah terbayarkan. Saya merasa lega, senang, terharu, sekaligus merasa kuat, karena berhasil membuktikan kalau kita memang tidak boleh memandang orang sebelah mata. Dia mungkin memiliki kekurangan yang terlihat jelas, tapi bukan berarti dia berhak untuk tidak diberi kesempatan. Alasan keselamatan itu memang penting. Seorang tunarungu yang tidak bisa mendengar mungkin bisa membahayakan penumpang, maybe kalau ada klakson dari pengendara lain, si driver tidak bisa mendengar. Tapi, bukankah mereka masih punya mata untuk melihat ke arah spion?

Ini bukan soal tunarungu saja, dan juga bukan tentang pengendara ojek saja. Apa pun kendaraannya, bagaimana pun keadaannya, cobalah berpikir lebih mendalam lagi. Apabila ada satu kekurangan yang bisa membuatmu merasa tidak aman, coba pikirkan dan lihat kelebihan mereka yang bisa menutupi dan meyakinkanmu kalau mereka tidak sebodoh itu untuk mencelakakan penumpangnya. Apalagi, ketika aplikasi Uber sudah mendukung para tunarungu itu, memandu mereka lewat aplikasi, bukankah artinya ojek Uber sudah mencoba memberi kesempatan dan peluang bagi mereka untuk bekerja? Daripada menjadi pengamen, pengemis, dan sejenis? Lalu, mengapa malah kita yang membatasi rezeki mereka?

Terakhir, saya tidak bermaksud untuk menyalahkan apalagi menyudutkan Bu Vi-El, karena saat itu pun saya juga bersalah. Kesadaran saya masih terbatas untuk memberitahu Bu Vi-El soal konsep kesempatan. Tapi, sekarang saya merasa sangat bersyukur. Melalui Pak Imam, saya bisa menebus rasa bersalah kepada driver pertama yang saya cancel. Saya juga berharap, kalian bisa mengambil keputusan yang terbaik ketika mengalami posisi tersebut, walaupun kalian tidak mempunyai kekurangan yang sama seperti yang saya dan driver-driver itu alami. 😊
 

Nela's Traveling Template by Ipietoon Cute Blog Design