Rabu, 30 Januari 2019

TRANSIT 19 JAM DI MALAYSIA, NGAPAIN AJA?

Dengar kata transit, saya yakin kalian pasti paham kalau tujuan traveling saya bukan ke Malaysia. Yup! Aslinya saya mau ke Korea Selatan. Tapi berhubung harga tiket pesawat langsung dari Jakarta ke Korea mahalnya nauzubillah pake banget, jadi saya pilih transit aja. Oh beda ya? Iya, beda banget.

Misalnya, harga tiket dari Jakarta langsung ke Korea tanpa transit (baik yang keluar bandara maupun sekadar pindah pesawat) itu sekitar 5 – 10 jutaan tergantung jenis pesawatnya. Sedangkan harga tiket yang transit sekitar 3 – 5 jutaan. Itu one way ya alias cuma harga tiket keberangkatan. 

Balik ke topik, karena saya dapat jadwal terbang ke Korea hari Rabu sekitar jam 07.15 pagi waktu Malaysia, otomatis saya kudu stay dong dari Selasa malam. Tapi ngerasa sayang aja gitu, jauh-jauh ke negeri tetangga kalau berangkatnya pas malam. Jadi, saya putuskan untuk ambil jam keberangkatan hari Selasa pagi. So, semakin panjanglah jam transitnya hahaha.

Sinar mentari di Bandara KLIA 2

Dari Berdua, Jadi Bertiga
Jadi, di perjalanan kali ini sempat ada drama keluarga. Rencana awal, saya dan sahabat karib bernama Tami mau ikut open trip Korea. Biaya open trip ini bisa dicicil selama kurang lebih setahun, jadi sebulan sejuta. Sudah mulai berjalan beberapa bulan, tiba-tiba Tami dilarang pergi ke Korea sama ortunya. Dengan berbagai upaya dan rayuan biar diizinin, kami kalah telak. Kalau kata ibunya nggak boleh, ya nggak boleh. Skak! Maka cancel-lah si Tami berangkat ke Korea dengan biaya DP dan cicilan otomatis hangus. 

Tapi berhubung tiket ke Malaysia udah kebeli—dan rugi banyak kalau hangus juga, jadi Tami tetap berangkat ke Malaysia. Tami juga ngajak Retno, teman kantornya buat ikutan ke Malaysia nemenin dia. Maksud hati, biar pas saya berangkat ke Korea, mereka bisa eksplore Malaysia lebih lama gitu. Balas dendam ceritanya. -_-“ 

Maka, inilah tim resmi One Day Trip in Malaysia! 
Cari Tempat Penitipan Koper? Hhmm ...
Saya dan Tami berangkat lebih dulu dengan pesawat yang sama, tiba di KLIA 2 (Kuala Lumpur International Airport 2) pukul 11.45 waktu setempat. Beli cemilan onigiri dan air mineral di minimarket bandara. Terus turun ke lantai satu, nunggu bus gratis di free shuttle menuju KLIA 1 untuk jemput Retno. Kami sangka bakal mudah, tinggal kabarin posisi di mana, nanti jemput di mana, selesai. Nyatanya, sampai bolak-balik naik turun lift, nanya sana sini nggak ketemu juga. Udah mulai bete-bete-an, akhirnya saya coba paham-pahamin bahasa di papan petunjuk arah. Walau masih satu rumpun, asli deh ternyata bahasa Malaysia ngebingungin euy.

Satu jam kemudian, akhirnya ketemu. Tapi masalah belum selesai di situ. Kami balik ke KLIA 2 buat cari tempat penitipan koper. Nggak lucu dong, mau jelajah tempat wisata geret-geret koper. Berbekal pencarian di internet, dengan bangga saya yakinkan mereka berdua, “Ada kok. Tempat penitipan koper ada di KLIA 2, itu deket pintu check out dan bla bla bla ....” 

See? Lagi-lagi waktu kami terbuang sia-sia. Lucunya, seorang petugas yang saya tanya malah jawab, “Apa itu koper? Awak tak paham.” Lalu, dengan bahasa tarzan saya kasih unjuk koper saya.

“Oh, sorry, maksudnya ini. Tempat penitipan barang ini.” 

“Baggage?” 

“Hah?” Saya pun bertambah bingung, bagasi yang dia maksud sama nggak nih sama yang saya pikir? Ntar salah-salah malah dimasukin ke bagasi pesawat lagi. Hadeuhh *tepok jidat*

Belum juga keluar bandara, kaki udah pegel duluan. Tami mulai sakit kepala karena lagi nggak enak badan. Waktu udah mau jam 3 sore dan kami kelaparan! Fix nyerah! Lambaikan bendera putih! 

Kami langsung cari makan, biar cepat kami pilih KF* aja. Tapi jujur masih enakan KF* di Indonesia, entahlah rasa ayam sama sup di sana agak aneh menurut kami. Tapi kata Lave, KF* Malaysia lebih enak daripada di Indonesia, ya beda lidah beda pendapat sih. Btw, siapa itu Lave? Nanti saya ceritain. 

Intinya, sekitar setengah 3 sore kami baru keluar dari bandara. Setelah tahu harga ongkos kereta, taksi, dan segala macam transportasi menuju KL Sentral, kami putuskan naik bus aja. Harganya lebih terjangkau. 

Tempat pemberhentian akhir Bus KLIA 2 - KL Sentral

Butuh sekitar satu jam untuk sampai di KL Sentral, dari sana kami ke stasiun lanjut naik KTM commuter jurusan Batu Caves. 

Lift turun menuju stasiun

Tiba di Batu Caves sudah jam 5-an, udah agak sepi di sana. Langitnya mendung, bahkan sempat gerimis manja. Beruntungnya, gerbang tangga menuju ke kuil masih dibuka. Tadinya kami sempat pesimis, karena menurut mbah google, Batu Caves tutup jam 5 sore. Sedangkan kami nge-pas banget sampai di sana jam 5-an. Alhamdulillah infonya salah hahaha ... 

Batu Caves, Tempat Ibadah Berbalut Wisata 
Mulai dari depan pintu gerbang sampai ke pelataran bawah tangga, kami mendengar suara-suara orang sedang beribadah gitu. Wajar sih, karena Batu Caves itu ibarat Candi Borobudurnya Malaysia. Hanya beda agama aja, kalau di Borobudur penganut Budha, sedangkan di Batu Caves penganut Hindu.

Akhirnya geret-geret koper 😅

Jadi kebayangkan seperti apa menariknya Batu Caves?

Di sana ada dua spot utama, pertama pelataran di depan patung Dewa Murugan yang berukuran besar. Warnanya emas, sangat mencolok. Di sekitarnya terdapat bangunan-bangunan yang bentuknya unik, ada kubahnya gitu terus warna-warni. Lalu, ketika saya coba zoom kamera lebih dekat ke arah kubah-kubah itu, ternyata ada patung-patung kecil. Saya kurang tahu itu patung apa atau dewa siapa, tapi sosoknya ada yang berupa perempuan dan laki-laki.

Sisi kanan pelataran
(©2019 by Novita Utami)
Sisi tengah pelataran

Serunya, di pelataran itu banyak burung-burung merpati bergerombol. Jadi, spot tersendiri deh bagi pengunjung yang mau foto. Btw, pas di dekat pintu gerbang masuk tadi, banyak monyet-monyet berkeliaran. Jadi, be safety ya walaupun monyetnya kalem-kalem nggak sampai "ngerebut barang".


sisi kiri pelataran

Spot utama kedua, adalah goa tempat ibadah. Walaupun tempat ibadah, pengunjung diperbolehkan kok untuk masuk dan melihat ke dalamnya. Tinggal adab kitanya aja yang sopan dan menghargai mereka terutama kalau lagi ada yang ibadah.



Warna-warni tangga menuju goa

Letak goanya di atas bukit. Jadi, kalau mau ke sana, kita kudu menaiki sekitar 290 anak tangga dulu. Hehehe ... Capek? Nggak sih sebenarnya. Soalnya tangganya warna-warni, bangus banget. Malah bikin salah fokus, yang niatnya ke goa malah stagnan di tangga buat foto-foto 😅.

© 2018 by Novita Utami

Sampai nggak sadar, tahu-tahu udah jam 7 aja. Padahal langit di sana masih terang, lho. Beda sama di Jakarta, jam 7 udah gelap.



Back to pelataran

Langitnya masih terang

Nuansa India di Batu Caves cukup kental, Guys. Rata-rata penjual di sana orang India asli. Beberapa kali mata saya menangkap mereka berpakaian baju sehari-sehari, lalu dilapisi kain sari. Malah ada yang murni pakai sari aja. For information, kain sari adalah pakaian khas India. Menambah keyakinan bahwa mereka orang India, ada Bindi atau Sindoor alias tanda bulatan merah gitu di kening mereka. Di luar gerbang, mereka berjualan pernak-pernik kayak kalung, bros, dll. Sedangkan di dalam Batu Caves mereka berjualan “benda-benda” untuk ibadah (menurut saya sih), misalnya rangkaian bunga berbentuk kalung. Biasanya kalau di film-film India, gunanya untuk mengalungkan orang yang dihormati, baik yang masih hidup atau foto orang yang sudah meninggal.

bersambung ....
.
.
.
.
.
Mau lihat keseruan versi vlognya? Tonton aja di Youtube. Jangan lupa like dan subscribe ya 💚




Rabu, 31 Oktober 2018

Ini Dia 3 Restoran yang Makanannya Paling Lezat di Pulau Bali, Jangan Sampai Kamu Lewatkan


Apakah ada diantara kalian yang tidak kenal pada sebuah Pulau yang bernama Bali?

Sebagai warga Negara Indonesia, tentu saja kita sudah kenal betul siapa Bali ini. Memang tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa destinasi wisata alam di Pulau Bali begitu memanjakan mata bagi siapa saja yang memandangnya. Itulah yang menjadi alasan utama, mengapa pulau yang satu ini selalu menjadi pilihan terfavorit bagi para turis lokal dan turis asing. Selain terkenal dengan destinasi wisata alamnya, di Pulau Bali juga terdapat banyak sekali restoran-restoran yang menyajikan makanan-makanan lezat lho.

Dikutip dari berita terkini Bali, inilah 3 restoran yang makanannya paling lezat di Pulau Bali:

1. Livingstone Bakery
Apakah kamu termasuk sebagai penikmat berat bakery & pastry? Jika iya, maka Livingstone Bakery inilah yang sedang kamu cari-cari selama berlibur di Bali. Selain menyajikan hidangan aneka roti yang lezat, di resto ini juga kamu bisa memilih menu makanan lainnya yang tidak kalah nikmatnya. Nah, bagi kamu yang ingin datang ke Livingstone Bakery, silahkan saja datang ke alamat Jl. Petitenget No. 88, Kerobokan, Bali.

2. Sea Circus
Selain Livingstone Bakery, Sea Circus juga merupakan salah satu restoran terbaik di pulau Bali yang recommended banget. Adapun mengenai berbagai menu kuliner yang dapat kamu pilih disini seperti cocktail, bakery, cake, kopi, dan masih banyak lagi. Selain itu, di café ini juga kamu akan disuguhi oleh aktrasi sirkus yang sangat menghibur. Lalu, dimanakah lokasinya? Mengenai lokasinya, Sea Circus ini bisa kamu jumpai di alamat Jl. Kayu Aya No. 22A, Petitenget, Seminyak, Kab. Badung, Bali.

3. La Laguna
Restoran terbaik berikutnya di Pulau Bali yang wajib kamu datangi, yakni bernama La Laguna yang berlokasi di alamat Jl. Pantai Kayu Putih, Berawa, Mengwi, Bali.

Nah, itulah 3 restoran terbaik di Pulau Bali yang tentunya jangan sampai kamu lewatkan. Bagaimana, apakah kamu tertarik untuk mengunjungi salah satu restoran tersebut?

Kamis, 23 Agustus 2018

Seharian Jadi Anak Pantai Part #1 (Traveling ke Malang)


"Diberitahukan kepada penumpang, Kereta Matarmaja sebentar lagi akan sampai di stasiun tujuan akhir, Malang Kota Baru ...."

Hari itu, tepatnya tanggal 28 April lalu, masih teringat jelas di benak saya. Rasa capek punggung dan panasnya bokong karena semalaman tidur di kursi kereta. Walaupun sebenarnya, itu bukan kali pertama saya traveling dengan kereta api sih. Tahun 2015 lalu, saya pernah melakukan perjalanan dengan sahabat SMA ke Yogyakarta. Perjalanan yang sampai sekarang belum pernah saya posting di blog ini. Hahaha maafkan ....

Saat itu, jam di ponsel menunjukan sekitar pukul 07.40 WIB. Ramai-ramai penumpang di kereta (termasuk saya) bersorak karena senang, sebentar lagi kereta akan sampai. Btw, ini beneran lho, penumpang di gerbong pada bersorak heboh. Bukan karena saya yang lebay nulisnya. Mungkin mengingat betapa lelahnya kami tidur sembari duduk di kereta kelas ekonomi, dengan lama perjalanan 16 jam. Ditambah lagi, dua AC menyala dalam satu gerbong dan kondisi semalam sedang hujan. Brrr.... jaket, masker, dan kaos kaki pun rasanya kurang ampuh. Untungnya saya bawa sarung untuk dijadikan selimut. :D Saya sudah nggak peduli lagi dengan tanggapan orang, yang penting saya hangat. Kalau penumpang lain, ada yang sepertinya sok kuat, pakai baju pendek ujung-ujungnya mual masuk angin. *haduh

Balik ke cerita semula, kehebohan tidak berhenti setelah adanya pemberitahuan tersebut. Penumpang mulai melipir ke jendela bagian kiri dan mem-video-kan pemandangan dengan takjub. Saat itu, kereta mulai berjalan di atas jembatan dan melewati Kampung Warna-Warni Jodipan. Sangat keren! Sayangnya, saya telat mengabadikan gambar dari atas jembatan.

"Nanti kita ke sini kan, Kak?" tanya Dela, adik sepupu saya sekaligus partner perjalanan saya kali ini.

"Yuppp! Jodipan masuk ke dalam list destinasi kita kok."

Sembari membayangkan betapa menyenangkannya liburan kali ini, kami memutuskan untuk bersiap-siap; jangan sampai ada kabel/colokan yang ketinggalan di kereta; jangan sampai ada sampah yang berserakan di kolong bangku; dan tentu memastikan tiket, dompet, hape, dan sebagainya aman di dalam tas kami masing-masing.

***
Stasiun Malang Kota Baru
Usai kereta berhenti di stasiun tujuan akhir, kami berempat (saya, Dela, Nidar, dan Irni) mulai mencari toilet di stasiun. Seperti awamnya toilet umum, kondisinya ramai, antrean mengular, tapi alhamdulillah bersih. Setelah itu kami ketemuan dengan sopir dari travel. Hm, sebelumnya saya jelaskan kalau kami nggak ikut open trip atau full sewa travel. Kami semi-backpacker dengan artian hanya menyewa mobil tergantung kebutuhan saja. Misalnya, itinerary hari pertama kami ke kawasan pantai selatan dan ternyata nggak ada kendaraan umum yang mengarah ke sana. Otomatis kami butuh sewa mobil. Sedangkan untuk urusan booking pantai dan segala macam, kami melakukannya sendiri.

Setelah bertemu sapa dengan sopir, kami langsung diantar ke tempat tujuan. Melewati kota Malang yang ternyata suasananya lebih mirip di Lampung daripada Jakarta, membuat saya dan Dela nostalgia pulang kampung. Banyak ruko-ruko berjejer, bangunannya pun tidak se-modern Jakarta yang tinggi menjulang, namun tidak setua dan se-tradisional kota Yogyakarta. Benar-benar khas Lampung, mungkin bedanya, bangunan di Lampung banyak terpasang ornamen Siger, sedangkan Malang tidak.

Dela with Nidar (pose kalian sok imut deh)

Dela, Nidar, dan saya

Lalu, setelah lebih dari dua jam, mobil mulai memasuki kawasan sepi pengendara. Tebing-tebing mengelilingi jalan raya, kanan dan kiri sesekali menunjukkan pemandangan yang indah, yaitu bukit-bukit yang menjulang, bukit ilalang yang bikin kami pengen turun ke sana terus selfie-selfie, juga deburan ombak dari Pantai Jelangkung di pinggir jalan yang fantastis banget, tapi sayangnya kami nggak bikin list destinasi ke sana.

"Nanti kalau pulangnya sempat, kita mampir aja. Sekalian lihat sunset," kata Mas Indra, sopir yang mengantar kami.

"Boleh nih?"

"Ya, nggak apa-apa. Yang penting dalam sehari, tujuannya tiga pantai dan masih satu arah."

Kami pun bersorak senang. Karena memang destinasi yang kami kunjungi hari ini hanya dua, Pantai Tiga Warna dan Pantai Gatra. Itu pun, masih satu kawasan, yaitu Sendang Biru.

Sekitar pukul 11.00 WIB mobil kami sampai di kawasan pantai, itu berarti kami masih punya waktu 30 menit untuk mengisi perut. Untuk yang belum tahu, Pantai Tiga Warna adalah salah satu pantai yang berada di kawasan konservasi, artinya kita tidak bisa sembarangan masuk ke lokasi ini tanpa booking terlebih dahulu. Minimal sebulan sebelumnya, kita harus booking dan mengecek kuota pengunjung. Sebab, dalam satu hari, Pantai Tiga Warna hanya menerima sekitar 200 pengunjung. Jam buka pun hanya sampai pukul 14.00 WIB.

Sebelumnya, saya sudah booking untuk tanggal 28 April, jam 11.30 WIB, alhamdulillah kuotanya masih ada untuk empat orang. Di sini, Mas Indra nggak ikut masuk. Hanya menunggu di parkiran.

Kami pun dijemput oleh Mbak Marta, salah satu petugas CMC Pantai Tiga Warna yang selama ini chatting-an whatsapp dengan saya (terkait booking dan pembayaran). Kami dibawa ke pos ceklis, lalu dijelaskan mengenai peraturan-peraturan yang harus kami patuhi. Salah satunya, barang bawaan kami diperiksa apakah ada barang-barang plastik, sekali pakai/kemungkinan menjadi sampah, seperti shampo sachet, plastik kresek, bungkus sabun batangan,  pembalut, dan sebagainya. Semuanya dihitung.

Jumlah barang yang kita bawa keluar kelak, harus sama hitungannya dengan barang yang kita bawa masuk. Misalnya, pas saya masuk bawa 2 plastik kresek dan 1 shampo sachet (total 3 barang) maka tiga barang tersebut harus kita bawa keluar lagi. Nggak boleh dibuang di dalam pantai, sekalipun ada tempat sampah. Baik sengaja maupun tidak sengaja. Sebab, berlaku denda Rp 100.000 per barang yang hilang.

Ketat banget peraturannya? Yup! Itu semua terbayar kalau kalian sudah berada di dalam pantainya! Keren banget!

Oh, iya untuk masuk ke dalam pantai, ada dua pilihan jalur: Jalur Pejalan Kaki dan Jalur Perahu.

Oleh karena keterbatasan waktu, rombongan kami memutuskan untuk melalui jalur perahu. Dari pos ceklis kami diarahkan ke dermaga kecil dan naik perahu boat.

Happy banget kayaknya 
Suerr ... ini candid
Sampai di tempat tujuan, kami menyempatkan diri untuk berfoto-foto sejenak.

Full team

Irni (Akhirnya ada foto kece juga haha ..)
Tapi jangan kelamaan foto-foto di sini ya! Karena lokasi utamanya bukan di sini hehe ... Bersama seorang pemandu, kami diarahkan menuju pantai. Benar-benar luar biasa! Sesuai dengan namanya, Pantai Tiga Warna memiliki tiga warna yang menjadi ciri khas, yaitu pasir putih yang kemerahan, laut dangkal yang kehijauan, dan laut dalam yang biru. Sangat cantik kalau dilihat dari atas tebing.


Full team with pemandu (maaf ya Mas, saya lupa namanya *tutup muka)

Selfie di atas tebing
Tak mau membuang waktu, kami bergegas turun ke pantai. Di sana, sembari menunggu pemandu membawakan alat snorkeling (disewakan), saya dan Dela langsung asik sendiri merekam video. Sedangkan Irni dan Nidar ke toilet umum untuk urusan cewek (nggak perlu dibahas ya :D).

Kondisi pantainya bersih banget. Inilah yang menjadi alasan ketatnya peraturan masuk ke lokasi pantai. Sebab, pantai ini bagian dari wilayah konservasi, maka kondisi pantai harus senantiasa bersih, keindahannya juga terjaga, karang-karangnya terawat, dan yang pasti berasa di pulau pribadi karena tidak banyak orang di sana.


copyright 2018 by Nila Fauziyah

Tapi bodohnya, saya melupakan alat paling penting untuk berenang. Penutup telinga! Oh God! Untuk seorang berpenyakit THT seperti saya, berenang tanpa alat penutup telinga sama saja cari penyakit.

Baca juga: Perkenalan yang mungkin terlambat

Apalagi kalau dibawa snorkeling ke laut lepas. Bisa-bisa air asin masuk ke telinga dan ngingggg ... telinga bakalan ngilu. Parahnya kalau sampai masuk ke hidung bagian dalam (kalau kata orang, kena ke sinus) sudah deh, kacau balau liburan. Daripada saya jadi pengacau, mending ngalah. Alhasil saya hanya berenang ngambang, nggak sampai nyelam alias snorkeling beneran.

Terus bagaimana dengan ketiga partner perjalanan saya? Mereka pun sama saja! Gara-gara nggak ada yang berani berenang jauh, mereka milih berenang di pinggir pantai, dan lebih banyak berfoto-foto. Halah! Ngapain sewa alat snorkeling atuh?










Bersambung ...

Minggu, 22 Juli 2018

Ngopi Asik & Unik Nggak Bikin Kantong Tipis!

Hello, mana nih yang suka ngopi? Ngopi apa ngopi diem diem bae hahaha. Zaman sekarang siapa yang gak suka ngopi? Eits bukan ngopi yang di sachet yang dibeli diwarung lalu diseduh gitu ya hehehe. Sekarang ini di setiap daerah pasti punya coffee shop. Sebenernya apasih cofee shop itu? Coffee shop itu adalah semacam cafe yang menjual kopi. Nah biasanya kopi yang dijual  di sini itu, yaitu kopi asli yang terbuat dari biji kopi, Guys. Lalu, diproses gitu hingga menjadi minuman kopi yang bisa kita nikmatin. 

Tau gak sih manfaat kopi itu apa? Kopi bisa membuat otak kita menjadi terus bekerja loh jantung kita juga jadi cepat memompa darahnya, maka dari itu ketika kita minum kopi pasti kita yang tadinya ngantuk jadi ga ngantuk kan? Kita jadi segar kembali. Nah biasanya kalau di luar negeri itu biasanya minum kopi di pagi hari menjadi kebiasaan mereka sebelum bekerja supaya otak dan pikiran mereka menjadi segar sehingga semangat dalam bekerja.


Nah, untuk kalian yang ada di daerah Cimahi, ada nih coffee shop yang menawarkan berbagai macam minuman kopi. Apa ya nama tempatnya? Nama tempatnya yaitu Coffee n Friends. Dimana ya lokasinya? lokasinya di Jl. Encep Kartawiria no. 165 Cimahi. Coffee shop ini sudh lumayan lama berdiri sekitar beberapa tahun yang lalu.

Apa yang membuat kopi disini unik? “Tentunya biji kopi yang dipakai disini kita menanam sendiri pokonya di daerah Jawa Barat, jadi beda dengan kopi yang dijual di coffee shop yang lainnya. Lalu, dalam proses rosting juga kita memiliki mesin sendiri dan biji kopi pun di rosting oleh roaster yang sudah terlatih sehingga menghasilkan biji kopi yang sangat bagus dan memiliki cita rasa yang berbeda dengan kopi yang lainnya. Nah, ini yang menjadi pembeda dari coffee shop kami,” ujar Pak IB Ketut Bagiana selaku owner dari Coffee n Friends, Kota Cimahi, Sabtu (14/07/2018).


Lalu, varian kopi apa saja yang dijual disini? “Nah, banyak sekali varian kopi yang dijual disini diantaranya espresso, americano, long black, piccolo, cappucino, coffee latte, mochaccino, caramel latte, cappucino creme brulee, espresso con panna, caramel machiato, avogato dan kopi kocok. Lalu untuk menu tertentu bisa dihidangkan panas atau dingin (hot or cold). Disini juga terdapat manual brewing degan varian menu diantaranya vietnam drip, siphon, V-60, french pres dan cold brew.” Ujar Pak IB Ketut Bagian selaku owner dari Coffee n Friends, Kota Cimahi, Sabtu (14/07/2018) . 

“Kopi disini pun bisa disajikan dengan latte art (khusus untuk hot) yang bermacam-macam karena barista nya juga sudah handal dan berpengalaman dalam membuat kopi. Sehingga rasa dari kopi pun sangat enak untuk dinikmati dan memiliki cita rasa yang berbeda dengan kopi yang dijual di coffee shop yang lain.” Lanjut ujar Pak IB Ketut Bagiana selaku owner dari Coffee n Friends, Kota Cimahi, Sabtu (14/07/2018). 

Lalu, bagaimana harga yang ditawarkan disini? “Jadi, harga yang ditawarkan cukup terjangkau yaitu dibandrol dengan harga Rp. 10.000 smpai Rp.30.000. dimana dengan harga tersebut kalian bisa menikmati kopi kesukaan kalian. Tunggu apalagi pilihan tempat untuk kalian ngopi ada di Coffee n Friends.

Minggu, 29 Oktober 2017

Seru-seruan di Festival Quilt (2nd Needle and Craft Festival 2017)

Yeah! Saya kelelahan hehe ... Jujur hampir satu bulan terakhir saya nggak punya waktu untuk istirahat. Bukan! Bukan karena workaholic saya lagi kambuh, malah sebaliknya. Hampir semua hari libur di Bulan Oktober saya habiskan untuk main, yang akhirnya bikin saya tepar sendiri hiaaa ... Tapi biarlah, yang penting hati gembira dan saya punya tabungan cerita untuk nulis blog *ini paling penting :D

Nah, ngomong-ngomong soal main, mainnya versi saya itu bukan ngayeng ke mall atau pacaran ya *eh kayak udah punya pacar aja. Saya lebih suka traveling ke tempat-tempat yang belum pernah saya datangi, wisata alam bebas, museum, dan pastinya ke tempat-tempat yang punya spot hunting foto bagus hehe... Nah, tanggal 19 Oktober kemarin itu saya main ke salah satu gedung di Jakarta. Tepatnya Gedung Smesco Indonesia, Pancoran, Jakarta.

Sumber: ferdfound.wordpress.com
Memang di sana tempat apa ya? Sebenarnya bukan tempatnya sih yang menarik. Tapi acaranya. Kalau sebelumnya kalian tahu atau minimal pernah dengar, Smesco itu sering menyelenggarakan acara-acara atau festival-festival yang bertema UKM dan seni kreatifitas. Nah, salah satu acaranya adalah 2nd Needle and Craft Festival 2017.

Festival ini menarik banget menurut saya. Karena jujur, ini kali kedua saya datang ke festival quilt di Smesco. Yups! Festival quilt ini kabarnya bakal jadi festival tahunan, lho. Jadi, buat kalian yang ketinggalan acaranya, selamat!! Kalian bisa menjumpai festival ini lagi di tahun depan!!

Oke, sekarang saya cerita sedikit, apa saja sih yang bisa kalian dapatkan di 2nd Needle and Craft Festival 2017?

1. Pameran bad cover cantik yang terbuat dari quilt.


 




Maaf atas kenarciscus-ramusan saya pada foto-foto di atas

2. Stand-stand UKM yang memamerkan dan menjual hasil karya quilt dan rajut.


3. Berbagai workshop dan seminar gratis. Kalian juga bisa mendapatkan informasi seputar quilt dan rajut dengan bertanya-tanya sama ownernya. Mereka ramah-ramah kok, malah kadang saya ditawari untuk ikut komunitas mereka. Jadi, kalau kalian suka merajut, baru belajar, atau bahkan baru sekadar suka dan pengen coba mempelajari rajut, boleh banget nih ikut komunitasnya!



flayer workshop tanggal 19 Oktober 2017
Sumber: Smesco Indonesia

Flayer workshop tanggal 19-21 Oktober 2017
Sumber: Smesco Indonesia

Selain tiga hal di atas, sebenarnya masih banyak yang bisa kita dapatin di festival quilt. Atau mending kita mundur dulu ke beberapa bulan sebelumnya.

Syuttttt ...


Mulai dari bulan Juli 2017, SMESCO yang bekerja sama dengan Rumah Puteri Cibubur dan Khatulistiwa Quilt ini sudah woro-woro di media sosial. Acara utamanya boleh saja cuma tiga hari, yaitu 19-21 Oktober 2017, tapi acara pra pembukaan 2nd Needle and Craft Festival 2017 ini banyaakkk banget!


Mereka ngadain workshop dan seminar berbayar dengan tutor-tutor yang ahli. Malah, beberapa workshop ada yang diajari langsung oleh orang luar negeri. Yuhuuu ... orang kita kan suka gitu ya, kalau dengar kata “bule” suka mendadak prestise hehehe ...


Selain workshop dan seminar, 2nd Needle and Craft Festival 2017 juga mengadakan kompetisi quilt, lho. Hadiahnya?? Liburan ke JEPANG plus akomodasi.

Flayer Kompetisi Quilt

Uh, siapa yang nggak pengen coba? Tapi saya mah apa atuh? Cuma tukang foto panggilan. Nggak punya bakat merajut apalagi bikin quilt. Eh ... tapi tunggu dulu, jangan langsung satu pemikiran sama saya yang versi negatif barusan ya. Karena pada dasarnya bakat itu bisa dipelajari dan diasah. Itulah gunanya diadakan workshop dan seminar quilt. Selanjutnya, dari diri kalian masing-masing, mau atau tidak?

Oke, balik ke topik semula.

Tanggal 19 Oktober 2017 tepatnya hari Jumat, saya memutuskan untuk cuti kerja. Ya, demi festival quilt! Kenapa?? Kan acaranya sampai hari Sabtu tanggal 21, kenapa mainnya malah pas hari kerja? Ya nggak apa-apa kepengen aja :D plakk Alasan sebenarnya, karena tanggal 19 Oktober adalah hari pertama sekaligus hari pembukaan acara ini. Menurut saya, hari pembukaan adalah hari yang tepat bagi kita yang ingin mendengar kata sambutan dari si empunya acara. Biasanya, pada hari pertama pula, kita bisa mendapat informasi lebih pasti tentang suatu acara dan alasan diadakannya acara tersebut.

Well, walaupun tahun lalu saya sudah pernah datang, bukan berarti saya tahu segalanya dengan acara yang tahun ini kan? Cause, saya bukan panitianya.

Saya cukup apresiasi ketika salah satu host di panggung menjelaskan maksud dari tema “Pernik Nawacita Nusantara”. Seni quilt, rajut, dan semua bentuk kreatifitas memang perlu diperkenalkan ke khalayak umum, khususnya masyarakat Indonesia yang memang pengetahuan tentang quilt ini masih dianggap kurang. Nah, selain memperkenalkan dan berbagi pengetahuan, tentu saja festival ini punya harapan mulia agar para pelaku UKM semakin terampil dan menjadi unggul.

Itu dijelaskan pula oleh Direktur Utama Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi Usaha Kecil Menengah (LLP)-KUKM, yaitu Ibu Emilia Suhaimi, “Acara 2nd Needle and Craft Festival 2017 bermaksud untuk memperkenalkan dan mengedukasi quilt, juga ragam kain Indonesia agar dapat diolah. Lalu, menjaring SDM yang berkualitas, serta menjembatani para quilter dengan orang-orang yang membutuhkan produk quilt.”


Pemberian piagam penghargaan kepada tiga perempuan penyintas kanker payudara
Ucapan Ibu Emilia nggak sekadar basa-basi lho, karena pada saat itu juga hadir tiga perempuan penyintas kanker payudara dari “Knitted Knockers Indonesia”, yang menerima piagam penghargaan secara simbolik dari Bapak Agus Muharam, Menteri Koperasi dan UKM. Di sana juga hadir para petinggi-petinggi Indonesia, seperti Ibu Rieke Dyah Pitaloka dan Ibu Dewi Motik.

Ngomong-ngomong, untuk yang belum tahu, Knockers itu rajutan prostesis atau artificial berbentuk payudara yang ringan, lembut dan nyaman, sangat cocok untuk dipakai oleh wanita yang telah menjalani masektomi atau lumpektomi. Knockers ini dirajut oleh para sukarelawan komunitas di seluruh Indonesia dan diberikan secara GRATIS, terutama untuk para penyintas kanker payudara berpenghasilan rendah.

Then, pasti bosan dong kalau sepanjang acara mendengarkan kata sambutan terus? Nah, di festival ini selain pameran, kita disuguhkan penampilan dari sebuah grup band anak-anak. Nama vokalinya Junes. Mereka ini Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), tapi jangan diremehkan ya karena suara vokalis dan permainan gitaris mereka beneran deh ... saya acungi jempol. Salah satu lagu yang mereka bawakan adalah lagu kesukaan saya, Thinking of Loud by Ed Sheeren.

Ada fashion show juga, lho ...


Hunting, Belanja, Cuci Mata
2nd Needle and Craft Festival 2017 menghadirkan berbagai workshop dan talkshow gratis selama acara berlangsung. Guru yang didatangkan juga tidak tanggung-tanggung, langsung dari Thailand, Filiphina, Belanda, dan Jepang.

Sebenarnya saya ingin banget mencoba workshop merajut, tapi saya ketinggalan hikss... Karena siang itu saya kelaparan, jadinya jam ishoma saya cari makan di sekitaran halaman gedung Smesco. Tapi malah kebablasan dan alhasil hanya bisa nontonin mereka.

Karena workshopnya lumayan lama, akhirnya saya tinggal hehehe ... Saya berniat mengelilingi stand-stand. Karena sepertinya booth yang mengikuti festival quilt tahun ini ebih banyak daripada tahun sebelumnya. Setelah saya cari tahu, ternyata totalnya 64 booth dari berbagai kota di Indonesia, seperti Pekanbaru, Solo, Bogor, Gorontalo, Malang, Medan, dan lain-lain. Oalah, pantesan ... corak-corak quiltnya juga lebih bervariasi dan bagus-bagus.

Patah Hati (lagi)
Dari tahun lalu saya sudah berpikiran, “Pokoknya festival quilt tahun depan saya mesti datang lagi.”
Soalnya saya naksir berat sama sepatu rajut baby huhu ... Tahun lalu keponakan saya baru lahir, dan di acara ini ada stand yang menjual sepatu rajut baby lucu-lucu. Harganya cuma Rp 50.000 sepasang. Tapi sayangnya, saya nggak sempat beli, karena baru ngeh setelah melihat postingan teman di media sosial yang kebetulan juga datang ke festival quilt.


Sepatu rajut baby
Terus tahun ini?

Gagal juga hikss ... Soalnya rata-rata hanya menjual sepatu rajut baby untuk usia 0-8 bulan. Untuk usia di atas 1 tahun bisa pre-order dan harganya bervariasi. Oh iya, selain sepatu baby, di sana juga jual sepatu rajut untuk remaja dan dewasa, lho. Harganya kisaran 200 ribuan. Bentuknya stylish abiss ... 

Selain sepatu, ada juga pernak-pernik gantungan kunci, pembungkus tisu, tempat pensil, dompet, dan lain-lain. Kisaran harganya Rp 30.000 – 100.000.

Ada juga boneka rajut yang bikin saya meringis saking pengennya, harganya sekitar Rp 200.000 – 400.000.


Boneka rajut

Boneka rajut 2
Sedangkan untuk tas rajut, hiasan bunga rajut, dan hiasan dinding lain (maaf ya) saya lupa tanya harganya.

Hiasan dari rajut

Yeah, sudah hampir jam 5 sore. Waktunya saya pulang. Memang belum puas sih, karena saya gagal beli sepatu rajut baby buat keponakan. Mau beli boneka rajut, naksirnya sama yang harga Rp 400.000 *duitnya nggak cukup. Jadi, kembali saya katakan, “Pokoknya festival quilt tahun depan saya mesti datang lagi.” dan tambahan kata, “jangan lupa bawa uang yang banyak buat beli boneka rajut.”

Thank you for reading



Jakarta, 29 Oktober 2017


======================
Kontak UKM dan Komunitas

Knitted Knockers Indonesia
WA: 081908667870
Email: knittedknockersindonesia@gmail.com
FB: Knitted Knockers Indonesia
IG: Knittedknockersindonesia

 

Nela's Traveling Template by Ipietoon Cute Blog Design