Rabu, 26 Juli 2017

Pengalaman Mendapat Driver Tunarungu

Sebenarnya kejadian ini sudah agak lama terjadi, tapi bagi saya, ceritanya tidak akan pernah basi. Apalagi, bagi kalian yang suka jalan dengan kendaraan umum. Walaupun cerita kali ini tidak bisa dibilang travelling juga sih, karena ...

Berawal dari beberapa bulan lalu, ketika di kantor sedang masa-masa pra-audit eksternal. Saya dan teman-teman kantor terpaksa pulang lebih malam daripada biasanya. Kurang lebih jam 10 malam, salah satu teman yang bernama Bu Vi-El, meminta tolong untuk dipesankan ojek online dari ponsel saya karena dia tidak punya aplikasi Uber. Dia mau pulang ke rumahnya walaupun sudah hampir tengah malam, sedangkan saya memutuskan untuk menginap di kost teman yang berada dekat kantor, karena jarak kantor dan rumah saya lumayan jauh.

Hal yang paling mengejutkan, ketika kami akhirnya mendapat driver untuk Bu Vi-El, di layar ponsel muncul pop up. Isinya memberitahukan kalau Bu Vi-El mendapat driver yang tunarungu. Bu Vi-El tidak perlu takut untuk melanjutkan perjalanan karena pihak Uber akan memandu sang driver melalui aplikasi. Tapi dengan cepat Bu Vi-El menyuruh saya untuk meng-cancel driver tersebut, dengan alasan keamanan yang kurang terjamin. Saya bisa apa? Driver ini untuk Bu Vi-El kan?



sumber gambar: internet
Tapi saya tertohok, sangat sangat tertohok. Menuliskan kembali cerita ini pun, perasaan tertohok itu muncul lagi. Rasa sakit yang mungkin tidak kalian rasakan, termasuk Bu Vi-El. Saya menangis saat itu juga setelah jari saya memencet tombol cancel. Saya seperti menolak diri saya sendiri. Walapun saya tidak tunarungu, tapi saya punya penyakit yang sejenis. THT yang bikin pendengaran saya berkurang, dan bukankah itu sama saja dengan tunarungu? Hanya intensitasnya yang berbeda.

Baca juga: Perkenalan yang (Mungkin) Terlambat

Menekan tombol cancel, membuat saya seperti orang jahat yang tidak memberi driver itu kesempatan. Sedangkan saya kerap mengeluh agar diberi kesempatan untuk menjadi orang normal, dunia yang normal, walaupun itu mustahil, karena telinga saya saja sudah tidak normal. Saya seperti menolak, menjahati, dan mengkhianati diri sendiri. Bersikap tidak adil kepada driver itu, sedangkan Saya? Saya meminta kesempatan dari orang lain, tapi saya malah menolak memberi kesempatan kepada si driver.
******
Selang beberapa minggu, Saya memesan aplikasi Uber untuk pulang ke rumah. Semua terlihat normal walaupun ketika saya mencoba memberi arahan via telepon, telepon saya tidak diangkat dan si driver mengirim sms, “Mbak, diarahkan lewat sms saja ya.”

Tidak ada rasa curiga saat itu, sampai si driver datang, lalu ada sebuah kertas yang dikalungkan di lehernya.

“Ojek Uber. Imam. 08xxxxxxxxxx”

Saya masih tidak berpikir kalau dia seorang tunarungu. Hanya mengira, bahwa bapak itu gagu atau minimal gagap bicara. Tapi no problem. Sekali lagi, saya berusaha memberi kesempatan kepada orang-orang yang memiliki kekurangan, terutama secara fisik. Karena biasanya, orang lain suka memandang sebelah mata dan itu sangat menyakitkan hati. Bahkan saat itu saya membawa barang yang cukup besar dan dia agak kerepotan. Tapi, dia sama sekali tidak mengeluh, bahkan berusaha bilang dengan gerakan tangan, “Bisa kok ini, tapi pelan-pelan saja ya,” intinya biar barang yang saya bawa tidak jatuh. Dia juga minta tolong diarahin jalannya karena takut maps di aplikasi tidak sesuai dengan jalan yang biasa saya lewati.

Selama di perjalanan, saya terus berpikir, mungkinkah Pak Imam ini tunarungu? Tapi kenapa tidak muncul pop up pemberitahuan dari ojek Uber? Tapi, apa orang yang gagap bicara sudah pasti tidak bisa mendengar? Di sepanjang jalan itu pula, saya beberapa kali ngasih arah jalan dengan gerakan tangan entah itu belok ke kanan, kiri, atau lurus, hingga akhirnya sampai di rumah. Saya masih tidak berani untuk bertanya, “Apakah bapak tunarungu?”

Well, beberapa bulan kemudian, saya mendapat whatsapp dari nomor tidak dikenal. Isinya bukan teror sih, tapi lebih ke informasi kalau ada pembagian laptop gratis dari kementerian apa gitu, saya lupa. Karena ngeri hoax, saya pun bertanya dan orang itu jawab, “Saya Imam tunarungu yang kerja uber pernah antar mbak.”


Screenshoot percakapan
Saya menangis lagi.

Jujur, sakit hati yang pernah saya rasakan ketika meng-cancel driver Bu Vi-El seolah terbayarkan. Saya merasa lega, senang, terharu, sekaligus merasa kuat, karena berhasil membuktikan kalau kita memang tidak boleh memandang orang sebelah mata. Dia mungkin memiliki kekurangan yang terlihat jelas, tapi bukan berarti dia berhak untuk tidak diberi kesempatan. Alasan keselamatan itu memang penting. Seorang tunarungu yang tidak bisa mendengar mungkin bisa membahayakan penumpang, maybe kalau ada klakson dari pengendara lain, si driver tidak bisa mendengar. Tapi, bukankah mereka masih punya mata untuk melihat ke arah spion?

Ini bukan soal tunarungu saja, dan juga bukan tentang pengendara ojek saja. Apa pun kendaraannya, bagaimana pun keadaannya, cobalah berpikir lebih mendalam lagi. Apabila ada satu kekurangan yang bisa membuatmu merasa tidak aman, coba pikirkan dan lihat kelebihan mereka yang bisa menutupi dan meyakinkanmu kalau mereka tidak sebodoh itu untuk mencelakakan penumpangnya. Apalagi, ketika aplikasi Uber sudah mendukung para tunarungu itu, memandu mereka lewat aplikasi, bukankah artinya ojek Uber sudah mencoba memberi kesempatan dan peluang bagi mereka untuk bekerja? Daripada menjadi pengamen, pengemis, dan sejenis? Lalu, mengapa malah kita yang membatasi rezeki mereka?

Terakhir, saya tidak bermaksud untuk menyalahkan apalagi menyudutkan Bu Vi-El, karena saat itu pun saya juga bersalah. Kesadaran saya masih terbatas untuk memberitahu Bu Vi-El soal konsep kesempatan. Tapi, sekarang saya merasa sangat bersyukur. Melalui Pak Imam, saya bisa menebus rasa bersalah kepada driver pertama yang saya cancel. Saya juga berharap, kalian bisa mengambil keputusan yang terbaik ketika mengalami posisi tersebut, walaupun kalian tidak mempunyai kekurangan yang sama seperti yang saya dan driver-driver itu alami. 😊

Kamis, 20 Juli 2017

Perkenalan yang (Mungkin) Terlambat

Halo, Nila di sini.

Setelah menulis beberapa pengalaman traveling di blog ini, tiba-tiba saya berpikir ... rasanya tidak sopan kalau tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu. Walaupun tidak ada ketentuan khusus apalagi keharusan, karena bagaimana pun, blog ini adalah milik pribadi. Tulisan dan foto-foto juga milik pribadi, jadi seluruh hak cipta tulisan dan foto ada kepada saya. Jadi, dengan tegas:


"Mohon tidak memplagiat/ menyalin-pindahkan foto maupun tulisan di blog ini tanpa menuliskan sumber blog www.nelaveling.com"

Karena saya pun, ketika mengambil beberapa foto dari internet untuk ilustrasi, pasti akan ditulis sumbernya. Mohon dipatuhi ya!

Bay the way, selain menulis, saya memang lumayan suka memotret. Kesukaan itu lahir sejak duduk di bangku kuliah yang saat itu saya mengambil jurusan jurnalistik. Ngerti dong kenapa sekarang jadi hobby motret? Soalnya fotografi masuk ke dalam salah satu mata kuliah yang saya pelajari. Berkat fotografi dan jurusan saya jugalah, saya mulai menemukan kecintaan akan jalan-jalan.

Hm, sebenarnya saya sudah suka jalan dari SMA. Tapi, apalah daya anak remaja perempuan yang masih tinggal sama orang tua? Di dalam keluarga, saya termasuk anak yang petakilan, ceroboh, agak nyeleneh, dan susah diatur. Makanya, orang tua agak susah kasih kepercayaan kalau saya mau pergi atau main jauh. Yaa... Alhamdulillah, perlahan-lahan saya bisa keluar dari lingkarang "negatif thinking" keluarga hahahaha >_< *anak durhaka.

Oh, ya. Tulisan kali ini tidak hanya sekadar perkenalan biasa kok. Di sini, saya sekaligus ingin berbagi rahasia. Semacam "kata pengantar" sebelum kalian para pembaca yang baik hati memutuskan untuk membaca pengalaman-pengalaman saya yang lainnya.

Pertama, seperti yang saya bilang tadi. Saya tumbuh di keluarga yang agak posesif sama anak perempuan mereka. Jadi, untuk meyakinkan mereka kalau saya tipekal orang yang tidak macam-macam, saya memutuskan untuk berjilbab. Lebih ekstrem lagi, saya mengikuti bela diri silat selama di kampus. Insyaallah aman :)

Kedua, saya sangat hobby berenang. Tapi hobby itu sempat terkubur karena saya memiliki penyakit THT, yang mengharuskan saya memakai alat telinga. Sulit rasanya menerima kenyataan waktu itu. Saya memang ingin sembuh dari penyakit saya, karena saya kerap tidak bisa mendengar apa yang orang lain katakan secara bisik-bisik. Tapi, ketika perlahan Allah mengabulkan doa saya, harus ada yang dikorbankan. Hm, sudah berapa tahun ya saya tidak menyentuh kolam berenang?

Ketiga, alasan saya menulis di blog ini adalah bukan untuk pamer. Saya sangat senang untuk kalian yang bersedia membaca, apalagi menjadikan tulisan di sini sebagai referensi. Tapi saya lebih berterima kasih lagi, apabila teman-teman mau memahami bahwa kenyataannya saya agak bermasalah juga dengan ingatan. Kadang saya mudah melupakan kejadian-kejadian yang baru beberapa hari terjadi. Kadang ada yang ingat, kadang lupa (seringnya sih lupa). Jadi, saya memilih untuk menuliskan di sini. (Karena kalau nulis di sticky notes berasa nulis deadline naskah T_T). Agar someday ketika saya lupa, depresi, atau sedang mengeluhkan kehidupan yang sulit, menyebalkan, atau kurang bersyukur, saya senantiasa ingat bahwa saya pernah menjalani hari-hari yang menyenangkan seperti yang saya tulis di blog ini.

Eittsss... Ada yang melow nih? Jangan dong ya :) Selalu semangat! Seperti kata pepatah (yang entah dari mana):

KEEP CALM, STAY COOL, AND ENJOY!

*****
Untuk kerjasama event, konten artikel, dsb, silakan hubungi:
Email      : nelafayza388@gmail.com

Media Sosial
Facebook : Nela Fayza
Instagram: @nelafayza
                @nilafphotograhpy
Twitter    : @nelafyz
 

Nela's Traveling Template by Ipietoon Cute Blog Design