Rabu, 20 September 2017

Pentingkah Asuransi Jiwa Bagi Traveler?

Dewasa ini, banyak orang dengan mudahnya mengaku sebagai traveler. Baru main ke luar kota sedikit, sudah ngaku-ngaku sebagai traveler. Agak berbeda dengan traveler sejati yang benar-benar senang bepergian ke daerah-daerah terpencil, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Traveler sejati bukan hanya sekedar bepergian untuk tamasya, ada motivasi tersendiri, seperti ingin merasakan suasana pedesaan, melihat secara langsung kehidupan di sana, memotret atau menuliskan kisah-kisah perjalanan mereka.


Sumber: themystikmonk.com

Ada rintangan tersendiri di setiap perjalanan mereka. Malah terkadang yang dipikirkan traveler sejati bukanlah, “tempat mana yang paling eksotis untuk dijadikan background selfie” melainkan “tempat mana yang bisa membawa kesan mendalam”.

Tempat yang bisa mereka kenang sampai tua kelak, dan tentunya pemikiran itu tidak didapat dalam sehari-dua hari.

Apalagi, jika akhirnya pilihan mereka jatuh pada tempat-tempat yang ekstrem, misalnya benua antartika. Mereka tentu tahu resiko apa saja akan dihadapi, memprediksi hal-hal buruk yang bisa saja terjadi. Di balik kepuasan yang akan mereka dapatkan, pasti ada kejadian yang tidak terduga. Mereka harus mempersiapkan itu, bahkan yang berhubungan dengan nyawa sekali pun.

Traveler amatiran biasanya tidak berpikir sejauh itu. Mereka cenderung merasa “semakin menantang, semakin bagus pula foto yang dihasilkan”. Tanpa mengerti bahwa mereka bisa saja mengalami cacat karena kecelakaan, meninggal karena terjatuh dari tempat tinggi. Itu semua adalah resiko yang harus kita perhitungkan sebagai seseorang yang mengaku “traveler”.


Sumber: consumerismcommentary.com
Terlebih lagi, kalau kita adalah tulang punggung keluarga. Yang artinya, apabila kita kecelakaan hingga kehilangan nyawa, kita meninggalkan beban kepada keluarga yang ditinggalkan. Untuk itu, mulailah berpikir mencari alternatif dan solusi. Setidak-tidaknya buat diri kita merasa tenang selama bepergian. Yang pada intinya, alternatif tersebut berfungsi untuk mengantisipasi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi tentu saja, kita selalu berharap yang baik-baik selama perjalanan kan?

Ibarat sedia payung sebelum hujan. Tidak ada salahnya melakukan pencegahan sedini mungkin.

Pencegahan yang dimaksud di sini adalah asuransi jiwa. Asuransi jiwa memang tidak bisa mengembalikan nyawa kita ketika kecelakaan dan meninggal dunia. Karena asuransi jiwa bukanlah Tuhan. Tapi dengan membeli asuransi jiwa, kita bisa mencegah adanya beban berat yang harus ditanggung oleh keluarga.

Asuransi jiwa memastikan bahwa keluarga yang ditinggalkan akan hidup berkecukupan, sebagaimana kehidupan mereka ketika kita masih hidup. Bisa dibilang, asuransi jiwa semacam "warisan" untuk keluarga ketika kita meninggal. Yang manfaatnya bukan hanya dirasakan oleh keluarga, melainkan untuk diri kita ketika sudah meninggal, misalnya biaya mengurus jenazah, sampai biaya makam (yang bukan rahasia lagi, kalau dari tahun ke tahun harganya semakin mahal).

Bahkan apabila kita meninggal dalam keadaan memiliki utang, asuransi jiwa bisa membantu membayarkan utang tersebut.
***
Memang agak sama dengan asuransi perjalanan. Ketika kita menaiki suatu kendaraan umum seperti pesawat, dalam tiket pesawat itu tentu sudah disertai asuransi keselamatan atas diri kita, kehilangan barang bagasi, dan semacamnya. Namun, perbedaan mendasar antara asuransi jiwa dan asuransi perjalanan terletak pada "kapan asuransi tersebut bisa digunakan?", dan asuransi jiwa tidak terbatas pada waktu kita melakukan perjalanan. Di saat kita berdiam diri di rumah pun, lalu tiba-tiba bencana yang tidak terduga yang membuat kita meninggal, maka keluarga kita akan mendapat santunan asuransi jiwa kita.


Sumber: pybahrain.com

Jadi, bukankah sudah waktunya seorang traveler mulai berpikir, "Apakah saya butuh asuransi jiwa? Pentingkah saya membelinya?"

Because today, life insurance is an item we must have.

3 komentar:

 

Nela's Traveling Template by Ipietoon Cute Blog Design