Pages

Kamis, 23 Agustus 2018

Seharian Jadi Anak Pantai Part #1 (Traveling ke Malang)


"Diberitahukan kepada penumpang, Kereta Matarmaja sebentar lagi akan sampai di stasiun tujuan akhir, Malang Kota Baru ...."

Hari itu, tepatnya tanggal 28 April lalu, masih teringat jelas di benak saya. Rasa capek punggung dan panasnya bokong karena semalaman tidur di kursi kereta. Walaupun sebenarnya, itu bukan kali pertama saya traveling dengan kereta api sih. Tahun 2015 lalu, saya pernah melakukan perjalanan dengan sahabat SMA ke Yogyakarta. Perjalanan yang sampai sekarang belum pernah saya posting di blog ini. Hahaha maafkan ....

Saat itu, jam di ponsel menunjukan sekitar pukul 07.40 WIB. Ramai-ramai penumpang di kereta (termasuk saya) bersorak karena senang, sebentar lagi kereta akan sampai. Btw, ini beneran lho, penumpang di gerbong pada bersorak heboh. Bukan karena saya yang lebay nulisnya. Mungkin mengingat betapa lelahnya kami tidur sembari duduk di kereta kelas ekonomi, dengan lama perjalanan 16 jam. Ditambah lagi, dua AC menyala dalam satu gerbong dan kondisi semalam sedang hujan. Brrr.... jaket, masker, dan kaos kaki pun rasanya kurang ampuh. Untungnya saya bawa sarung untuk dijadikan selimut. :D Saya sudah nggak peduli lagi dengan tanggapan orang, yang penting saya hangat. Kalau penumpang lain, ada yang sepertinya sok kuat, pakai baju pendek ujung-ujungnya mual masuk angin. *haduh

Balik ke cerita semula, kehebohan tidak berhenti setelah adanya pemberitahuan tersebut. Penumpang mulai melipir ke jendela bagian kiri dan mem-video-kan pemandangan dengan takjub. Saat itu, kereta mulai berjalan di atas jembatan dan melewati Kampung Warna-Warni Jodipan. Sangat keren! Sayangnya, saya telat mengabadikan gambar dari atas jembatan.

"Nanti kita ke sini kan, Kak?" tanya Dela, adik sepupu saya sekaligus partner perjalanan saya kali ini.

"Yuppp! Jodipan masuk ke dalam list destinasi kita kok."

Sembari membayangkan betapa menyenangkannya liburan kali ini, kami memutuskan untuk bersiap-siap; jangan sampai ada kabel/colokan yang ketinggalan di kereta; jangan sampai ada sampah yang berserakan di kolong bangku; dan tentu memastikan tiket, dompet, hape, dan sebagainya aman di dalam tas kami masing-masing.

***
Stasiun Malang Kota Baru
Usai kereta berhenti di stasiun tujuan akhir, kami berempat (saya, Dela, Nidar, dan Irni) mulai mencari toilet di stasiun. Seperti awamnya toilet umum, kondisinya ramai, antrean mengular, tapi alhamdulillah bersih. Setelah itu kami ketemuan dengan sopir dari travel. Hm, sebelumnya saya jelaskan kalau kami nggak ikut open trip atau full sewa travel. Kami semi-backpacker dengan artian hanya menyewa mobil tergantung kebutuhan saja. Misalnya, itinerary hari pertama kami ke kawasan pantai selatan dan ternyata nggak ada kendaraan umum yang mengarah ke sana. Otomatis kami butuh sewa mobil. Sedangkan untuk urusan booking pantai dan segala macam, kami melakukannya sendiri.

Setelah bertemu sapa dengan sopir, kami langsung diantar ke tempat tujuan. Melewati kota Malang yang ternyata suasananya lebih mirip di Lampung daripada Jakarta, membuat saya dan Dela nostalgia pulang kampung. Banyak ruko-ruko berjejer, bangunannya pun tidak se-modern Jakarta yang tinggi menjulang, namun tidak setua dan se-tradisional kota Yogyakarta. Benar-benar khas Lampung, mungkin bedanya, bangunan di Lampung banyak terpasang ornamen Siger, sedangkan Malang tidak.

Dela with Nidar (pose kalian sok imut deh)

Dela, Nidar, dan saya

Lalu, setelah lebih dari dua jam, mobil mulai memasuki kawasan sepi pengendara. Tebing-tebing mengelilingi jalan raya, kanan dan kiri sesekali menunjukkan pemandangan yang indah, yaitu bukit-bukit yang menjulang, bukit ilalang yang bikin kami pengen turun ke sana terus selfie-selfie, juga deburan ombak dari Pantai Jelangkung di pinggir jalan yang fantastis banget, tapi sayangnya kami nggak bikin list destinasi ke sana.

"Nanti kalau pulangnya sempat, kita mampir aja. Sekalian lihat sunset," kata Mas Indra, sopir yang mengantar kami.

"Boleh nih?"

"Ya, nggak apa-apa. Yang penting dalam sehari, tujuannya tiga pantai dan masih satu arah."

Kami pun bersorak senang. Karena memang destinasi yang kami kunjungi hari ini hanya dua, Pantai Tiga Warna dan Pantai Gatra. Itu pun, masih satu kawasan, yaitu Sendang Biru.

Sekitar pukul 11.00 WIB mobil kami sampai di kawasan pantai, itu berarti kami masih punya waktu 30 menit untuk mengisi perut. Untuk yang belum tahu, Pantai Tiga Warna adalah salah satu pantai yang berada di kawasan konservasi, artinya kita tidak bisa sembarangan masuk ke lokasi ini tanpa booking terlebih dahulu. Minimal sebulan sebelumnya, kita harus booking dan mengecek kuota pengunjung. Sebab, dalam satu hari, Pantai Tiga Warna hanya menerima sekitar 200 pengunjung. Jam buka pun hanya sampai pukul 14.00 WIB.

Sebelumnya, saya sudah booking untuk tanggal 28 April, jam 11.30 WIB, alhamdulillah kuotanya masih ada untuk empat orang. Di sini, Mas Indra nggak ikut masuk. Hanya menunggu di parkiran.

Kami pun dijemput oleh Mbak Marta, salah satu petugas CMC Pantai Tiga Warna yang selama ini chatting-an whatsapp dengan saya (terkait booking dan pembayaran). Kami dibawa ke pos ceklis, lalu dijelaskan mengenai peraturan-peraturan yang harus kami patuhi. Salah satunya, barang bawaan kami diperiksa apakah ada barang-barang plastik, sekali pakai/kemungkinan menjadi sampah, seperti shampo sachet, plastik kresek, bungkus sabun batangan,  pembalut, dan sebagainya. Semuanya dihitung.

Jumlah barang yang kita bawa keluar kelak, harus sama hitungannya dengan barang yang kita bawa masuk. Misalnya, pas saya masuk bawa 2 plastik kresek dan 1 shampo sachet (total 3 barang) maka tiga barang tersebut harus kita bawa keluar lagi. Nggak boleh dibuang di dalam pantai, sekalipun ada tempat sampah. Baik sengaja maupun tidak sengaja. Sebab, berlaku denda Rp 100.000 per barang yang hilang.

Ketat banget peraturannya? Yup! Itu semua terbayar kalau kalian sudah berada di dalam pantainya! Keren banget!

Oh, iya untuk masuk ke dalam pantai, ada dua pilihan jalur: Jalur Pejalan Kaki dan Jalur Perahu.

Oleh karena keterbatasan waktu, rombongan kami memutuskan untuk melalui jalur perahu. Dari pos ceklis kami diarahkan ke dermaga kecil dan naik perahu boat.

Happy banget kayaknya 
Suerr ... ini candid
Sampai di tempat tujuan, kami menyempatkan diri untuk berfoto-foto sejenak.

Full team

Irni (Akhirnya ada foto kece juga haha ..)
Tapi jangan kelamaan foto-foto di sini ya! Karena lokasi utamanya bukan di sini hehe ... Bersama seorang pemandu, kami diarahkan menuju pantai. Benar-benar luar biasa! Sesuai dengan namanya, Pantai Tiga Warna memiliki tiga warna yang menjadi ciri khas, yaitu pasir putih yang kemerahan, laut dangkal yang kehijauan, dan laut dalam yang biru. Sangat cantik kalau dilihat dari atas tebing.


Full team with pemandu (maaf ya Mas, saya lupa namanya *tutup muka)

Selfie di atas tebing
Tak mau membuang waktu, kami bergegas turun ke pantai. Di sana, sembari menunggu pemandu membawakan alat snorkeling (disewakan), saya dan Dela langsung asik sendiri merekam video. Sedangkan Irni dan Nidar ke toilet umum untuk urusan cewek (nggak perlu dibahas ya :D).

Kondisi pantainya bersih banget. Inilah yang menjadi alasan ketatnya peraturan masuk ke lokasi pantai. Sebab, pantai ini bagian dari wilayah konservasi, maka kondisi pantai harus senantiasa bersih, keindahannya juga terjaga, karang-karangnya terawat, dan yang pasti berasa di pulau pribadi karena tidak banyak orang di sana.


copyright 2018 by Nila Fauziyah

Tapi bodohnya, saya melupakan alat paling penting untuk berenang. Penutup telinga! Oh God! Untuk seorang berpenyakit THT seperti saya, berenang tanpa alat penutup telinga sama saja cari penyakit.

Baca juga: Perkenalan yang mungkin terlambat

Apalagi kalau dibawa snorkeling ke laut lepas. Bisa-bisa air asin masuk ke telinga dan ngingggg ... telinga bakalan ngilu. Parahnya kalau sampai masuk ke hidung bagian dalam (kalau kata orang, kena ke sinus) sudah deh, kacau balau liburan. Daripada saya jadi pengacau, mending ngalah. Alhasil saya hanya berenang ngambang, nggak sampai nyelam alias snorkeling beneran.

Terus bagaimana dengan ketiga partner perjalanan saya? Mereka pun sama saja! Gara-gara nggak ada yang berani berenang jauh, mereka milih berenang di pinggir pantai, dan lebih banyak berfoto-foto. Halah! Ngapain sewa alat snorkeling atuh?










Bersambung ...

3 komentar:

  1. pantainya bening bgt.. seru ya bersih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas, bening banget. Kalau di foto mungkin kurang ya, kalau lihat di lokasi aslinya wahhh ... rasanya nggak cukup tiga jam. Pengen seharian di sana. Tapi nggak bisa T_T

      Hapus
  2. Akhirnya posting jugaaak. Inilah alasan saya bikin blog tng traveling. Tujuannya selain untuk dokumentasi bisa juga sebagai cerita tng pengalaman perjalanan yg seru, kadang ada cerita lucu di balik perjalanan itu.

    BalasHapus